Kembali Sua Pantai Losari

Wajah-wajah kusam terlihat suntuk. Di bawah payung-payung kecil segelintir orang berteduh dari jerangan matahari yang benar-benar jahanam siang itu. Nampaknya tiada seorang pun di antara mereka yang cukup sinting untuk berjemur di panasnya Pantai Losari. Kecuali kami.

Sudah barang tentu ini bukanlah kunjungan perdana saya ke Pantai Losari. Saya lumayan akrab dengan Kota Makassar, satu kali menjelajah kota ini dan entah berapa puluh kali transit. Namun baru kali ini saya berkunjung ke Pantai Losari tepat di siang yang panas membara seperti ini.

Tanah lapang berubin yang saya pijak ini dinamai Pelataran Bahari, sebuah dapatan mendandani wajah sempadan pantai Makassar tahun 2006. Beberapa tahun silam ditambahkan huruf-huruf raksasa di bibirnya, berupa tulisan Pantai Losari, yang kemudian disusul oleh tulisan raksasa City of Makassar dan nama-nama etnis asli Sulawesi Selatan.

Dahulu, Pantai Losari tenar lantaran makanan laut, terutama bakar-bakaran, yang bertebaran di tepiannya pada malam hari. Warung-warung tenda berdiri, berjajar, membentengi Makassar dari lautan. Selain hidangan laut, juga tersebar warung-warung tenda yang menjual makanan klasik Makassar, semisal pisang epe dan es pisang ijo.

Sekarang? Mereka masih ada. Hanya pindah lebih jauh ke sana.