Menyapa Pagi di Manakarra

Barangkali saya terlalu lama menetap di Jakarta hingga lupa artinya kesunyian pagi. Hari baru di Mamuju diawali tanpa kegaduhan. Begitu tenang. Saya berjalan seorang diri menyusuri Pantai Manakarra yang kalem sembari menikmati matahari yang masih bersinar malu-malu.

Secara harafiah, nama Manakarra diambil dari batu permata distingtif Sulawesi Barat. Begitu besarnya kebanggan masyarakat Mamuju terhadap pantai ini, hingga upacara pelantikan Gubernur Anwar Adnan Saleh pun dilangsungkan di sempadannya. Singkat cerita, Manakarra adalah Losari bagi Mamuju.

“Ada juga Pulau Karampuang. Kamu harus snorkelling di sana. Saya jamin tidak akan kecewa,” kata Rizky melalui pesan singkat yang dikirim pagi tadi.

Pulau Karampuang memang hanya selemparan celana dari garis pantai. Masalahnya, saya tidak cukup nyentrik untuk snorkelling di pulau kosong seorang diri. Pertimbangan akan mahalnya biaya sewa kapal yang harus ditanggung satu orang juga mengurungkan niat saya untuk mengikuti saran Rizky. Apalagi ini bulan puasa. Saya tidak yakin ada operator kapal wisata yang beroperasi.

Namun itulah transisi Sulawesi Barat. Potensi wisata yang dulunya tidak terkelola di bawah komando Makassar, kini gencar dipromosikan, tidak hanya lewat corong pemerintah namun juga oler partikeliris jelata macam Rizky yang sehari-harinya bahkan tidak berada di Sulawesi Barat.

Laiknya operator seluler, promo saja tidaklah cukup, infrastruktur juga harus dibangun. Masih banyak pekerjaan rumah bagi provinsi belia ini, utamanya akses jalan. Dari Mamuju ke selatan, relasi jalan sudah terbangun dengan baik hingga ke Makassar. Ke utara, jalan provinsi masih konstan bergelombang seperti dicetak di atas keripik Chitato. Ke timur jangan tanya, jalan tembus menuju Mamasa melalui Mambi lebih menantang daripada berkendara di atas permukaan bulan.

Saya menyimpan harapan luar biasa besar kepada provinsi ini. Sulawesi Barat menyimpan potensi yang melimpah ruah, pertanyaan besarnya tinggal apakah mereka mampu untuk mengelolanya.