Jejak Purba Pugung Raharjo

Mata saya mencoba memindai gambar-gambar satelit yang saya dapatkan dari internet. Perjalanan dari Bandar Lampung menuju ke Way Kambas sudah barang tentu melewati tempat-tempat menarik. Hanya perlu sedikit kejelian saja untuk menemukan tempat-tempat agak tersembunyi itu. Maka benarlah, pindaian saya terhenti pada sebuah kompleks yang terlihat mencolong di tepi sebuah desa bernama Pugung Raharjo, tidak ada tulisan apapun selain sebaris informasi, Taman Purbakala.

“Pak, nanti kita berhenti sebentar di Pugung Raharjo!” seru saya kepada Pak Alex yang menyopiri mobil kami. Pak Alex hanya mengangguk saja menuruti maunya si penyewa. Usut punya usut ternyata Pak Alex sendiri juga tidak pernah paham tentang kawasan ini, yang artinya ini bisa jadi pencarian menarik.

Ternyata tidak. Berkat bantuan GPS dan penduduk lokal, mudah bagi kami untuk menemukan kawasan megalitikum ini. Sebuah kompleks yang pada bagian tengah-tengahnya terdapat punden berundak peninggalan manusia purba ini ternyata lebih luas dan terawat daripada yang kami duga. Sarah dan saya menyusuri barisan jalan berbatu yang dipahat sedemikian rupa di samping cekungan terjal yang disebut sebagai benteng tanah.

Dari sana perjalanan berlanjut kepada sebuah punden, candi bertingkat tiga yang terlihat seperti piramida kurang lengkap. Pada bagian bawahnya terdapat empat pintu masuk di masing-masing sisi, namun hanya satu sisi yang mempunyai tangga menuju ke puncaknya. Dari puncak punden berundak ini kita bisa melihat kawasan Pugung Raharjo.

“Tidak banyak yang kami ketahui dari lokasi ini,” ucap Pak Pemandu yang menemani kami, “Namun menurut para arkeolog, batu-batu ini berasal dari tahun 2.500 SM, lebih dari empat ribu tahun.”

Semula Pugung Raharjo mempunyai 13 punden berundak, namun hanya tersisa 7 buah. Sejumlah punden sudah rusak lantaran faktor alam maupun faktor manusia. Dari kesemuanya punden nomor enam mempunyai ketinggian tujuh meter dan merupakan punden paling tinggi di antara yang lain. Punden ini digunakan sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang, semakin besar pundennya maka diduga semakin prominen situsnya.

Situs purba di Pugung Raharjo ini ditemukan oleh para transmigran Jawa pada tahun 1957. Semenjak saat itu kawasan ini dipugar sebagai cagar budaya dan dikelola oleh pemerintah daerah. Beberapa tahun silam, pemerintah kabupaten kehabisan dana untuk mengelola kawasan ini hingga akhirnya pengelolaannya diambilalih oleh Provinsi Banten entah sampai kapan.