Di Dalam Laut Raja Ampat

Sebilas air garam masuk ke hidung.

Perih.

Saya masih berusaha beradaptasi dengan pandangan bawah air. Ayunan gelombang lembut dan air dengan salinitas pekat membuat pemandangan di hadap lensa kacamata menjadi meliuk-liuk aneh. Serba salah. Mau dilepas khawatir tidak sanggup melihat jelas, sedang tetap berkacamata menjadi seperti menonton akuarium dari balik pintu mesin cuci.

Tidak seberapa masa, air laut menjadi lebih kalem, ataukah memang mata ini sudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Entahlah. Yang jelas saya mulai bisa melihat pemandangan sekitar yang mana ratusan ribuan ikan menginfes setiap sudut lautan.

Segerombol ikan berwarna ungu kelabu melintas tepat di sela-sela kaki, saya mengambil kamera untuk membidik mereka. Namun terlambat. Mereka terlalu cepat. Sementara di sebalik terumbu karang satu dua pasang clownfish nampak malu-malu melongokkan kepalanya keluar. Ikan-ikan yang menjadi spesies utama film Finding Nemo ini terlihat begitu cantik, berwarna jingga terang dengan latar vegetasi laut hijau yang sama-sama menyala.

Lantaran tidak membawa alat selam, tentu saja saya tidak bisa berlama-lama di bawah air apalagi menjelajah kedalaman Raja Ampat yang menurut Pak Inyong lebih fantastis lagi.

“Jika mau di sebelah sana ada manta point,” usul Pak Inyong, meskipun terdengar kalem namun antuasisme yang terpancar dari matanya tidak mungkin bohong. Memang. Raja Ampat terkenal dengan ikan manta yang ukurannya sebesar meja makan keluarga kerajaan.

Mungkin sudah empat atau lima jam sejak kami berlalu meninggalkan Saleo. Tidak hanya hidung dan mata yang terasa perih namun sekujur tubuh juga sudah nampak kemerah-merahan, seakan dipenuhi ruam-ruam tanpa alasan.

Baru beberapa hari di Raja Ampat, saya sudah melewati banyak momen. Mulai dari menyantap ikan yang baru ditangkap, hingga berperahu menyusuri sisi-sisi Teluk Kabui serta bawah airnya yang tembus pandang. Namun saya paham, ini hanya setengah perjalanan. Masih ada beberapa lapis petualangan lagi yang menanti.