Banjir Darah Sisingamangaraja

Sisingamangaraja adalah rekam histori yang bersimbah darah. Generasi kesepuluh dari raja Batak ini tewas terbunuh dalam peperangan melawan bala tentara paderi Minang. Kepalanya ditebas pedang dan ditusukkan ke ujung sebuah tombak yang terpancang di tanah.

Adalah cucunya, Sisingamangaraja XII, yang pada kemudian hari memicu pertempuran melawan kolonialis menjadi figur sentral bagi peran serta etnis Batak dalam perjuangan kemerdekaan.

Pagi ini, saya bersama Heri dan Simon berdiri di hadap kuburnya di Balige. Tempat peristirahatan terakhir Sang Raja nan masyhur ini ditandai oleh tembok besar berwarna merah marun dengan corak ukir-ukir Batak di seluruh permukaannya. Sebuah pelor pasukan Belanda yang dipimpin oleh Hans Christoffel mengakhiri perjuangannya di Bukit Aek Sibulbulen.

Republik ini merdeka setengah abad setelah kemangkatan Sang Sisingamangaraja XII. Sosoknya masyhur di antara pahlawan-pahlawan nasional, termasuk di antaranya menghiasi lembaran mata uang seribu rupiah ketika saya masih duduk di bangku SD.