Desa Bernama Ranu Pani

Desa Ranu Pani mendapatkan namanya dari sebuah danau permai bernama sama yang berada di tengah-tengah desa ini. Danau yang menjadi salah satu dari tiga danau ikon Semeru, bersama Ranu Kumbolo dan Ranu Regulo ini memang tenar lantaran menjadi gerbang masuk pendakian menuju ke areal taman nasional di Gunung Semeru.

“Ranu Pani adalah desa tertinggi di Semeru,” ungkap Pak Sugeng bangga, “Desa ini berada pada ketinggian sekitar dua ribu seratus meter dengan penduduk lebih dari seribu orang.”

Ranu Pani sendiri pernah makmur dari bawang putih pada medio 1990-an, namun endemi hama dan derasnya arus bawang putih impor membuat para petani beralih menanam kentang. Kini penduduk Ranu Pani hidup dari dua sektor utama yaitu pertanian kentang dan pariwisata.

Status sebagai desa terakhir sebelum Semeru membuat Ranu Pani menjadi perhentian terakhir bagi para pendaki untuk mempersiapkan logistik sebelum meneruskan pendakian. Dari desa ini terdapat dua jalur pendakian utama, yaitu Watu Rejeng dan Gunung Ayek-Ayek. Lazimnya, para pendaki memilih jalur yang pertama karena lebih aman dan punya pemandangan lebih menarik.

Tidak terkecuali kami. Siang itu, pukul satu kurang sedikit, kami dikumpulkan di aula balai taman nasional untuk mendengarkan briefing sebelum pendakian. Rute yang akan kami ambil tentu saja melintasi Watu Rejeng yang berarti akan menerobos hutan lebat dengan tanah becek berlumpur.

“Dua hal yang kita lakukan sebelum pendakian ini adalah mendengarkan briefing dan kemudian sholat bagi yang muslim,” ucap Pak Sugeng memberi aba-aba kepada saya dan tim, “Mas Wawan ikut saya untuk tanda tangan surat pernyataan dan meninggalkan KTP di balai sebagai ketua tim.”

Nampaknya saya tidak punya pilihan.