Salam Berlepas dari Dieng

Meninggalkan Dieng bukan sebatas berlepas dari kesenyapan. Ketika bus-bus turisme berukuran semenjana memompakan asap hitam berlomba-lomba turun dari tinggian Wonosobo menuju ke kota-kota yang jauh lebih gerah. Ketika ibu-ibu pedagang carica dipergantikan oleh toko-toko dan minimarket di sepanjang jalan. Panas, berisik, dan pengap seakan datang begitu saja.

Siapa sangka perjalanan selama dua tiga hari di Dataran Tinggi Dieng cukup mengakrabkan saya kepada kehidupan masyarakat Dieng. Ketika dinginnya udara dan hangatnya senyuman berbaur menjadi satu.

Demikianlah perjumpaan singkat harus saya akhiri menjelang hari gelap. Bus Malino Putra yang saya tumpangi telah meraung-raung meninggalkan Wonosobo menembus laluan jalur pantura, langsung menuju ke Jakarta. Di sepanjang perjalanan saya hanya menatap jauh ke luar, ke arah lampu-lampu kota yang silih berganti menemani.

Perjalanan ini memang panjang. Semalam suntuk. Dan semua itu terasa jauh lebih panjang, ketika saya harus berdamai dengan kerelaan hati untuk meninggalkan Dieng.