Warning: curl_init() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 95

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 97

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 98

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 100

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 103

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 106

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 333

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 334

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 363

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 370

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 375

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 376

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 377

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 379

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 382

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 150

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 151

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 159

Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 162

Warning: curl_errno() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 167

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 181

Warning: curl_setopt() expects parameter 1 to be resource, null given in /home/tunawism/public_html/wp-includes/Requests/Transport/cURL.php on line 182
Memburu Sarang Si Komodo – tunawisma

Memburu Sarang Si Komodo

Bukit-bukit padang savannah menghampar lekat-lekat seakan bersinggungan dengan langit. Arak-arakan awan seadanya tidak sanggup menyembunyikan matahari dan cahayanya yang semakin ke sini semakin membara tiada ampun. Rerumputan hijau terlihat sudah mulai menguning, dipapar oleh keringnya bumi Komodo yang lama tidak dibasuh hujan.

Sudah agak lama kami berjalan. Mungkin satu jam. Di sana-sini hanya terlihat hampar suket kekuningan dengan sesekali pohon runduk kesepian yang seakan tumbuh begitu saja setelah jatuh dari langit. Begitu sunyi senyap kalau saja tidak terdengar siulan-siulan ringan Usman yang berbaur dengan suara kerisak langkah kaki kami.

“Di belakang sana ada sarang komodo,” terang Usman dengan parau. Saya pun sontak menatap jauh-jauh mencari-cari lokasi yang disebutkan oleh ranger tadi. Tidak terlihat suatu apapun.

Kami terus berjalan menuju balik bukit, tetap awas menunggu-nunggu penuh rasa penasaran, seperti apa wujud sarang komodo yang baru disebutkan oleh Usman. Lomar pun terlihat sama penasaran, topinya diangkat sedikit untuk menghalau sorot matahari sementara kedua matanya memicing mengamati satu gundukan kering di atas tanah, sarang komodo.

Tidak terlihat seekor pun komodo di sana. Hanya terlihat sebuah liang sepi yang terkesan baru selesai digali dan ditinggalkan, terselip pada lekukan bukit yang jauh dari mana-mana. Di tempat inilah komodo betina menyembunyikan telur-telurnya.

“Komodo membuat sarang di pelosok hutan atau di padang rumput,” ungkap Usman menjelaskan ihwal dunia perkomodoan dengan penuh antusiasme, “Biasanya mereka memang mencari tanah gembur yang mudah untuk digali. Di sinilah komodo-komodo menyembunyikan telurnya.”

Komodo biasanya bertelur pada awal musim penghujan, sekitar September. Beberapa bulan sebelumnya para pejantan komodo akan bergulat satu sama lain untuk memperebutkan komodo betina. Anak-anak komodo yang menetas akan berlarian menuju ke pohon, mereka hidup di atas pohon selama satu tahun untuk menghindari predator, yang tidak lain adalah para komodo dewasa.