Bersua Dengan Suku Marind

“Kalau ada tanya foto ini, kasi tau mereka kalau sa mau upacara bunuh babi,” terang bapak berjaket kuning itu dengan nada begitu bangga. Nampaknya akan ada upacara adat besar di perkampungan seberang Sungai Kumbe sana.

Saya baru saja turun dari perahu lapuk bermotor ketika bertemu dengan mereka. Keempat orang Suku Marind ini sedang membawa beberapa tandan pisang berwarna hijau yang nampaknya masih lumayan mentah. Sedari tadi mereka berjalan mondar-mandir di dermaga, mengamati dengan gelisah, menunggu kedatangan perahu yang akan membawa mereka menyeberang sungai.

Suku Marind atau Suku Marind-Anim adalah bangsa asli penghuni Merauke. Wilayah tanah adat mereka mencakup wilayah Kabupaten Merauke saat ini ditambah dengan sebagian kecil dari sisi selatan Kabupaten Boven Digoel. Suku Marind cukup beruntung lantaran tanah adat mereka tidak banyak terpangkas oleh garis perbatasan pembelah Pulau Papua yang ditarik begundal kolonialis Eropa pada masa silam. Mereka tidak menemukan masalah seperti suku-suku perbatasan lain yang tanahnya terpotong di antara dua negara, Indonesia dan Papua Nugini.

Jauh pada masa lampau, Suku Marind dikenal karena praktek perburuan kepala. Meskipun demikian sejatinya Suku Marind bukanlah langganan kanibal. Mereka membunuh manusia luar sukunya karena dimotivasi keyakinan bahwa tengkorak manusia mengandung semacam energi ilahi yang bermanfaat bagi mereka. Adapun menurut catatan antropolog Swiss, Paul Wirz, ada beberapa kejadian mereka memakan daging manusia yang telah dibunuhnya.

Masa-masa perburuan kepala sudah lama lewat. Suku Marind kini hidup berbaur dengan para etnis pendatang di Kabupaten Merauke, bahkan ditilik dari kualitas hidupnya, kehidupan mereka jauh lebih baik daripada suku-suku di wilayah adat sekitarnya.

“Kami tidak jual pisang ini, tidak dijual,” kata bapak tua berjenggot lebat itu kepada saya tiba-tiba seakan-akan saya mempunyai wajah layaknya seorang pembeli pisang. Saya mengangguk kemudian tertawa. Bapak tersebut kemudian kembali mengulang cerita upacara bunuh babi sembari menunjuk ke arah seberang sungai.

Matahari sudah terbenam di sebalik dermaga, perjalanan ke Merauke masih dua jam lagi yang artinya kami harus menyusuri jalan raya dalam kegelapan. Meskipun jalan sempit sudah beraspal tipis, penerangan jalan secara praktis sama sekali tidak ada. Di kanan kiri jalan hanya terdapat hutan lebat dan sesekali perkampungan Suku Marind.