Salam Untuk Tanjung Selor

Pepohonan rimbun menghiasi lanskap yang dibelah oleh jalanan beraspal seadanya. Tanjung Selor lebih mirip desa raksasa daripada kota. Tidak banyak yang mengetahui bahwa dia baru saja didapuk menjadi ibukota provinsi Kalimantan Utara. Sebuah kecamatan yang sebentar lagi segera naik kelas menjadi kota ini membawahi empat kabupaten dan satu kota yang dihuni oleh hampir enam ratus ribu jiwa.

Dengan kepadatan penduduk hanya enam jiwa per kilometer, tentu sangat susah untuk merencanakan pembangunan di provinsi yuvenil ini. Bayangkan saja dalam petak seluas satu kilometer persegi, hanya terdapat satu keluarga. Jelas ada ketidakseimbangan antara luas wilayah terhadap sumber daya manusia yang tersedia, itu pun belum bicara kualitas sumber daya manusianya.

Saya tidak pernah lupa bagaimana saya menjangkau Tanjung Selor dari Balikpapan sepuluh tahun silam melalui sebuah perjuangan keras. Mobil harus melewati lintas Muara Wahau yang lebih mirip gundukan tikus tanah daripada jalan raya. Puluhan kali mobil terperosok, merangkak, dan harus kami dorong untuk bisa melanjutkan perjalanan. Seribu kilometer. Tiga hari dua malam.

“Wahau? Wahau sudah diperbaiki,” kata si sopir, “Nanti juga rusak lagi. Gara-gara mobil-mobil CPO.”

Mobil-mobil CPO yang dimaksud adalah truk kelapa sawit, Crude Palm Oil. Truk-truk berbobot puluhan ton melintas setiap harinya di jalanan yang dibangun dengan aspal tipis seadanya. Akibatnya, jangankan aspal, bebatuan pun terkikis dan menyisakan lumpur cokelat pekat. Keterbelakangan dan keterisolasian yang sebenarnya ironis, karena Kalimantan Timur merupakan provinsi kelas wahid dengan pendapatan per kapita nomor satu di Indonesia.

Semenjak Kalimantan Utara dilahirkan dua tahun silam, Tanjung Selor berdenyut kencang. Pembangunan demi pembangunan tercetus untuk menjadikannya sebagai hub baru Kalimantan. Bukan tidak mungkin apabila dalam beberapa dekade ke depan, dinamika Tanjung Selor mampu bersaing dengan metropolitan sekelas Pontianak atau Banjarmasin. Berlebihan? Tidak. Dulu Palangkaraya juga mulai dari sebuah desa kecil bernama Pahandut hingga menjadi kota besar dalam waktu empat puluh tahun.

Saya tidak berlama-lama di kota ini. Baru pagi-pagi tadi saya merapat dengan kapal motor dari Tarakan namun siang ini saya sudah berangkat lagi ke Tanjungredeb, atau yang lebih dikenal sebagai Berau.

“Kalau ke Berau jangan khawatir. Jalan dari Tanjung Selor ke sana sudah bagus,” pungkasnya.