Penjual Telepon di Cisompet

Terkutuklah orang yang menugaskan salesman berjualan telepon di tempat ini. Bukan telepon genggam melainkan telepon rumah keluaran tahun delapan puluhan.

Saya memacu sepeda motor melintasi liukan aspal mulus Cisompet menuju Pameungpeuk. Sekali waktu saya menghentikan sepeda motor di sisi jalan untuk mengabadikan pemandangan. Di saat itulah seorang laki-laki muda berkulit coklat gelap, berpakaian rapi, lengkap dengan dasi dan sepatu fantovel berjalan menghampiri saya menenteng tiga kardus kecil.

“Pak, saya jual telepon. Mau beli telepon, Pak?” tanyanya dengan suara memelas.

Serius. Di lereng pegunungan, logika saya masih mampu menangkap apabila ada seseorang menjual tahu goreng. Namun seorang salesman telepon rumah di tempat seperti ini, benar-benar tidak masuk nalar.

Namun rasa penasaran mengalahkan rasa kasihan, “Oh, saya boleh lihat dulu? Telepon apa ya?”

Orang itu membuka kardus dan mengeluarkan telepon meja edisi zaman Soeharto masih didampingi Soedharmono. Warnanya merah agak luntur namun kondisinya terlihat masih anyar gres. Meskipun agak terkesan, saya menolak. Tidak berapa lama, saya pun kembali memacu sepeda motor melintasi jalan raya mulus Cisompet, sementara Gunung Cikuray terlihat dipayungi awan di seberang sana.