Antara Ternate dan Tidore

Ternate dan Tidore hanyalah dua pulau kembar yang menghiasi setitik luasan yang nyaris tidak terlihat di selepas kaki Halmahera. Namun siapa boleh sangka bahwa sepanjang delapan ratus tahun seluruh Maluku Utara harus tunduk di bawah komando dua pulau kecil ini.

Barulah pada tahun 2010, dominasi keduanya sejak tahun 1257 atas Maluku Utara disudahi oleh titah Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Pada bulan Agustus, ditunjuklah Sofifi, sebuah kota di Pulau Halmahera, guna menjadi ibukota Maluku Utara. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah, Halmahera sebagai pulau terbesar di Maluku Utara tidak lagi dikomando oleh tetangga mungilnya.

Tongkat komando di tangan Ternate dan Tidore sendiri sebenarnya tidak selalu mulus. Kedua kesultanan ini dulu pernah punya kesempatan menjadi dua kesultanan kaya yang menguasai lalu lintas cengkeh dunia, namun mereka justru lebih banyak menghabiskan kekayaan untuk baku tembak dan saling menghancurkan. Persaingan Portugis dan Spanyol di tanah ini juga semakin memperburuk keadaan yang sudah teruk.

Masa keemasan rempah-rempah di Ternate dan Tidore telah lama lewat. Kini kedua pulau masih meredup di tengah gegap gempita pembangunan nasional. Cengkeh-cengkeh yang dipapar di tepi aspal seakan-akan mengingatkan saya bahwa tanah ini dulu pernah begitu berjaya.