Wamena, Kristen dan Merdeka

Apabila saya diminta menunjuk dua karakter yang paling membedakan kota-kota di pegunungan Papua dibandingkan kota-kota di tepian pantainya, maka itu radikalisme agama dan semangat kemerdekaan. Sudah menjadi cerita lama bahwa kabupaten-kabupaten seperti Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Yakuhimo, dan Pegunungan Bintang punya spirit agama yang cenderung eksklusif.

“Semua rumah ibadah di sini, kalau mau bangun harus izin gereja,” ucap bapak tua bercambang putih dengan tatapan tajam yang semakin memperjalan kerut-kerut di dahinya.

“Tetapi di Jayapura tidak seperti itu,” saya mencoba menyanggah.

“Jayapura itu berbeda. Kami di pegunungan ini berhak menentukan arah hidup kami,” pungkasnya.

Di tanah Wamena inilah gereja-gereja tumbuh subur sementara jumlah rumah ibadah lain, seperti masjid, jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan. Ya. Satu tangan. Di kota ini pulalah saya melihat poster-poster KKR (Kebaktian Kebangkitan Rohani) ditempel di berbagai sudut jalan, acara-acara gereja besar dengan mengundang pendeta dari Toraja dan Manado untuk jauh-jauh datang ke sini sekedar memberikan khotbah kekristenan.

Dibandingkan kota-kota lain yang terletak di bibir pantai, sebut saja Jayapura, Merauke, Sorong, Manokwari, Timika, dan Biak, maka posisi Wamena sangat tak diuntungkan. Lokasinya yang terletak di tengah-tengah pulau Papua dan berada di terjalnya lereng Pegunungan Jayawijaya membuat segala akses keluar masuk logistik ke daerah ini begitu sulit. Pembangunan pun boleh dibilang tersendat dan tidak memuaskan hasrat masyarakatnya. Di sinilah ideologi OPM (Organisasi Papua Merdeka) lebih mudah tumbuh subur.

Wamena adalah kota pertama di Papua yang dua tahun lalu kedapatan membuka kantor cabang OPM. Pemerintah Republik Indonesia harus kecolongan ketika kantor tersebut diresmikan tanpa sepengetahuan aparat. Akibatnya, polisi dan tentara harus lintang pukang menutup dan mengejar-ngejar orang yang bertanggung jawab.

Sore itu di hotel yang terletak bersebelahan dengan Baliem Pilamo Hotel, saya melihat sebarisan tentara membawa senjata berlaras panjang menunggui di depan pintu hotel.

“Ada mau tangkap anggota OPM,” celetuk seorang bapak yang menunggui kios rokok di seberang situ.