Komodo liar yang pertama kali bersua dengan saya ada di depan pintu toilet. Barang tentu bukan tempat yang diduga-duga karena ketika kami sedang berjalan melintas, tiba-tiba komodo yang masih kecil itu nyelonong dan mengais-ais tanah di depan kakus. “Komodo memang
Month: January 2016
Disambut Korban Komodo
Barisan tengkorak kerbau terpampang di atas palang-palang kayu. Dua buah tonggak lapuk menahannya agar tidak jatuh. Salah satu batok tengkorak terkesan lebih besar daripada yang lainnya, namun tulang tanduknya tinggal utuh sebelah. Terlihat gurat-gurat kasar di tanduk lainnya, nampak seakan-akan
Tamu Pertama Pulau Rinca
“Selamat datang di Loh Buaya,” tiga orang ranger berpakaian serba hijau pupus menunggui kami sembari duduk-duduk santai di jembatan dermaga. Saya melempar senyum dan melambaikan tangan ketika kapal kayu lapuk ini mulai merapat ke dindingnya. Seperti yang sudah kami duga
Cantiknya Perairan Komodo
Gelombangnya ringan, walau kadang berpusar. Berkas tipis cahaya matahari membayang di pulau-pulau kecil berselimut rumput hijau kekuningan di sepanjang perairan Pulau Rinca. Semakin lama gugus-gugus pulau semakin rapat menandakan bahwa kami memang sudah begitu dekat. Kami mendahului matahari di Labuan
Berlayar Mendahului Matahari
Alarm yang disetel berlapis-lapis berdering berbarengan di kamar hotel kami yang sempit itu. Suaranya pekak tidak karuan. Namun Lomar dan saya memang tidak punya pilihan, andai kami terlambat bangun maka terlewat sudah kesempatan untuk menapaki Taman Nasional Komodo. Sepakat. Jadilah
Sunset Terbaik Labuan Bajo
Langit biru terbakar memerah. Membelah horizon menjadi dua bagian. Saya hanya terdiam memicingkan mata menahan silau, menatap jauh ke arah pulau-pulau kecil yang terselip di badan perairan. Sejumlah kapal yang tadinya bergerak simpang siur terlihat melambat dan kemudian diam. Hening.
Barisan Pinisi Labuan Bajo
Namanya Labuan Bajo. Sudah barang pasti pada masa silam tempat ini menjadi persinggahan para pelaut Bajo, dengan arak-arakan pinisi, berlayar dari daratan Sulawesi mencapai terminus barat Flores. Di bawah panasnya matahari siang, sebuah kapal pinisi bersandar di dermaga. Sekelompok pelaut
Sepetak Surga dari Flores
Bukan aras-arasen, tetapi memang sekujur tubuh saya terasa perih. Sudah barang pasti saya terlampau lama berjemur dua hari belakangan ini. Kulit yang berwarna merah legam menjadi salah satu indikator yang baik bahwa tubuh ini sudah dipersalahgunakan. Sore ini saya hanya
Pede Saja di Pantai Pede
Bagi seorang laki-laki, keberadaan sebuah kolor adalah modal yang lebih dari cukup untuk menceburkan diri ke laut. Kalau bukan lantaran panasnya Labuan Bajo pada siang itu, mungkin saya masih berpikir dua kali untuk berenang dengan hanya bercelana dalam. Labuan Bajo
Bunda Maria dan Fosil Ikan
“Bunda Maria dan fosil ikan,” jawab singkat si pemandu melontarkan dua hal yang sama sekali tidak ada hubungannya itu. Apabila saya punya kesempatan untuk menyebutkan Bunda Maria dan fosil ikan dalam satu kalimat, maka hanya di Gua Batu Cermin inilah









