Gorontalo Ada Fort Orantje

Tubuhnya sudah renta namun jalannya masih agak lincah. Dengan sebilah golok yang tersarung di belakang, La Gani membimbing saya mendaki dinding-dinding batu Fort Orantje yang hanya selebar setengah depa. Opa Gani, demikian kakek ini akrab disapa, adalah juru kunci Benteng Oranye di Gorontalo. Kendati namanya belum setenar Fort Otanaha, dari buku tamunya saya melihat Fort Orantje sudah banyak disinggahi oleh wisatawan asing.

“Kamu kok berani berjalan di atas sini?” tanyanya ketika berjalan mendahului saya beberapa langkah di depan tembok benteng yang tingginya hampir empat meter, “Biasanya tamu-tamu saya tidak pernah berani untuk berjalan secepat kamu di atas sini.”

Saya hanya tertawa sambil berlari kecil di atas benteng karena bingung mau menjawab apa.

Menjelang abad ke-15, kawasan ini merupakan perbatasan konflik dari tiga entitas besar. Pertama adalah Suku Gorontalo yang tinggal di sekitaran Limboto, kedua adalah Suku Buol yang berasal dari barat, dan ketiga adalah para pelaut Mindanao dari Filipina. Ketiganya bertemu dan acap memperebutkan daerah ini. Namun berdirinya benteng yang tampak angkuh di tepi laut ini justru adalah berkat pelaut-pelaut Eropa yang singgah dari Ternate.

Masuk melalui kawasan Kwandang, para pelaut Portugis membangun benteng di daerah ini dari bahan kayu dan batu. Benteng yang dibangun seadanya ini bertahan hingga kedatangan Belanda. Masuknya Belanda ke kawasan ini mengubah bentuk benteng dari semi-permanen menjadi tembok pertahanan tebal yang menghadap tepat ke arah Laut Filipina.

Tidak diketahui nama asli dari benteng ini, Opa Gani melanjutkan, “Nama Benteng Oranye didapat dari nama para pelaut Belanda yang main voli di depan sini dengan kaos oranye. Kaos tim nasional.”

Saya mendaki satu demi satu anak tangga yang terletak di ujung lain benteng, satu-satunya yang masih tersisa dan dipugar tiga kali oleh pemerintah provinsi dalam tiga dekade terakhir. Selebihnya hancur dan batu-batunya sudah hilang entah dibawa ke mana. Dari atas ini dapat terlihat lautan lepas bergelora beberapa ratus di seberang utara sana, namun Opa Gani menyela.

“Dulu tidak sejauh ini,” sambungnya, “Waktu zaman Portugis lautnya ada di dekat sini, terbukti di salah satu pintu bawah benteng ini ada terowongan untuk keluar ke laut, tetapi sampai sekarang masih tertimbun dan belum dibuka kembali. Kalau menurut salah satu profesor dulu di bawah sini langsung lautan.”