Angkot berhenti di pertigaan jalan, setelah saya menyerahkan uang sepuluh ribu, sopirnya langsung tancap gas tanpa melihat sekitar. Tinggallah Awhy dan saya berdua di tengah jalan raya yang sepi menyantap debu knalpot yang ditinggalkan oleh angkot tadi. Inilah Kota Kepulauan
Maluku-Papua
Menatap Soasio dari Atas
Dari Tidode, Ternate serasa bagaikan metropolitan. Kota ini jauh lebih tenang dibanding saudaranya di seberang lautan sana yang kontur tanahnya mirip dan karakter masyarakatnya pun juga sepadan. Entahlah. Namun ada dikata bahwa Tidore selalu menjadi yang kedua di dalam sebuah
Di Ambang Benteng Tahula
Puncak Gunung Kie Marijang tersamar sendat-sendat awan putih yang mengambang rendah. Laiknya Ternate yang tumbuh di sekitar kaki Gunung Gamalama, Tidore juga berkembang dari kaki Gunung Kie Marijang yang naungannya membuat matahari serasa terbenam lebih cepat di kota ini. Dari
Siang Panas-Panas di Tidore
Di atas bukit kecil berbukit legam ini Kaicil Nuku pernah berdiri seorang diri. Matanya menatap lurus ke arah pulau seberang yang selama ini mewarnai lanskap kerajaannya. Dalam benak Sang Sultan Tidore, pulau di seberang sana tidaklah lebih dari sebuah kompetitor
Riuh Rendah Pantai Holtekamp
Lekukan kecil yang terpampang pada peta itu pada mulanya saya anggap tidak penting. Namun belakangan saya baru menyadari bahwa sebuah teluk kecil di bibir Laut Pasifik ini memaksa saya berjalan memutar dan menambah waktu tempuh saya dari Jayapura ke Skouw
Ban Bocor di Ambang Negara
Sebenarnya dari persimpangan Mabo saya sudah merasakan sepeda motor sedikit oleng. Ternyata memang ban belakang agak kempes. Masalahnya adalah saya berada di tengah-tengah hutan sementara perbatasan Skouw dan segala fasilitasnya masih berada sekitar 15 kilometer di seberang sana. Jadilah saya
Di Perbatasan Papua Nugini
“Saya dan keluarga hari ini ke Indonesia,” cerita bapak dari seberang Papua Nugini yang duduk di sebelah saya di Pasar Skouw dengan Bahasa Indonesia terbata-bata, “Kami mau beli mi instan.” Entah serius atau melawak, bapak ini membawa seisi keluarganya menyeberangi
Tempat Bernama Skouw Itu
“Buat apa merdeka kalau hanya sedikit orang saja yang menikmatinya? Buat apa merdeka apabila nanti masyarakat tidak sejahtera?” pria legam berambut putih awut-awutan itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang rompal-rompal tidak karuan. Dia duduk di kiosnya tidak jauh dari garis
Papeda, Papua Penuh Damai
Menyantap kuliner lokal seakan-akan sudah menjadi rutinitas wajib ketika berkunjung ke suatu daerah. Itulah yang mendorong saya menyisir ambang pantai di Teluk Humboldt Jayapura, memasuki rumah makan satu per satu, dan menanyakan, “Ada papeda?” Akhirnya saya berhasil menemukan satu rumah
Sentani Mendunia dari Festival
“Ayolah kawan, saya sudah cukup bersabar,” celetuk si pembawa acara dengan logat Papua kental. Sudah lima belas menit dia menunggui para penari untuk naik ke panggung namun mereka tidak menampakkan batang hidungnya barang sedikitpun. Menunggu dan menunggu. Akhirnya para penari









