“Mau ke Batu Pahat, Malaysia?” tanya si ibu penjual di warung kecil yang terlihat miring seakan-akan hendak rubuh itu. Saya menggelengkan kepala sembari tersenyum simpul. “Tidak, Bu. Saya sengaja ke sini untuk melihat Selatpanjang,” jawab saya singkat. “Aneh. Baru kali
Sumatera
Sepanjang Tepi Selatpanjang
Hembusan angin laut menemani sesap-sesap secangkir kopi. Pahit. Aroma kopi urung tercium lantaran pawana laut terus bertiup, mengenyak setiap partikelnya ke udara bebas. Sesekali justru bau ikan menghampiri, barangkali dari dermaga di seberang sana. Selatpanjang pada senja itu begitu asing,
Selatpanjang, Tiongkok Kecil
Ditilik dari bangunan-bangunan tuanya di sisi kanan kiri jalan, saya yakin tempat ini punya sejarah panjang. Tidak salah. Pada masa Kesultanan Siak Sri Indrapura, Selatpanjang adalah bandar yang sangat hidup. Bersama kota-kota pesisir tanah Riau macam Bengkalis dan Bagansiapiapi, kota
Orang, Babi, Monyet, Anjing
Entah apa maksudnya orang ini mengendarai sepeda motornya melintasi jalanan Sumatera Utara sembari membawa seekor babi di kerangkeng. Bukan hanya itu, di atap kandang babi itu terlihat seekor monyet mengendarai seekor anjing. Seakan-akan metafora untuk serangkaian umpatan : babi, monyet,
Satu Singgahan di Berastagi
“Turun di sana. Kol itu tidak akan ke mana. Tetapi kapan lagi abang balik ke sini,” celetuk Simon sambil memarkirkan mobil kijangnya di tepi jalanan Berastagi yang ramai siang itu. Saya pun melompat turun dari mobil, mengambil posisi tepat di
Di Bawah Deru Sipisopiso
Saya cuma bisa menatapnya dari kejauhan. Heri dan Simon bilang tidak ada waktu untuk turun mendekat. Memang. Saya hanya sempat mampir lantaran saya harus segera buru-buru berpindah kota lagi setelah kembali ke Medan esok nanti. Dari atas sini Sipiso-piso masih
Wisata Iman di Sidikalang
Indonesia pernah memuncaki survei Gallup. Pertanyaan survei tersebut sederhana saja, seberapa penting agama bagi anda. Hasilnya, Indonesia adalah negara urutan paling wahid di dunia yang menganggap agama itu urusan super-penting. Tidak salah. Di petilasan yang mereka sebut Wisata Iman Sitinjo
Masuk ke Kabupaten Dairi
Gelak tawa kemudian teriakan-teriakan tidak jelas. Segerombolan anak SMA berkejaran dengan angkot yang sepertinya sudah kelewat penuh hingga si sopir enggan berhenti. Mengetahui polah anak-anak yang ngotot untuk mengejar, si sopir melambatkan mobilnya. Seperti predator menangkap mangsanya, mereka melompat ke
Matahari Terbit di Bukit Tele
Heri memacu mobil rongsok itu menembus pekatnya pagi buta. Bukit Tele namanya, sebuah tinggian di luaran Samosir, menghadap langsung ke luasan Danau Toba. Di dekapan udara pagi Samosir yang dingin berdesir, kami tiba di ceruk bukit tepat di ambang Danau
Santap Malam di Pangururan
Enam tujuh pasang mata menatap kami bertiga. Sesaat setelah kami turun dari mobil dan menjejakkan kaki di sebuah lapo di selip Samosir, seisi warung hanya tertegun. Sunyi senyap di kedai kecil yang hanya diterangi cahaya redup lampu petromaks menari-nari. “Ada









