Sepanjang Tepi Selatpanjang

Hembusan angin laut menemani sesap-sesap secangkir kopi. Pahit. Aroma kopi urung tercium lantaran pawana laut terus bertiup, mengenyak setiap partikelnya ke udara bebas. Sesekali justru bau ikan menghampiri, barangkali dari dermaga di seberang sana. Selatpanjang pada senja itu begitu asing, mendiamkan, namun terasa begitu bersahabat.

Saya duduk seorang diri di warung kopi, hanya dipisahkan oleh buluh-buluh kayu lapuk dengan gelombang lautan lepas yang malas-malas. Seorang pemuda Tionghoa berbadan tambun duduk menghadap meja kasir, beralaskan dingklik yang ketiga kakinya nampak tidak seimbang.

Selatpanjang adalah kota yang ditangguli oleh kedai kopi. Entah berapa puluh kedai kopi berdiri berjajar di sepanjang garis pantai Selatpanjang, menghadap laut lepas yang tenang, seakan-akan menjadi benteng pemisah antara kota dan lautan.

Tidak mengherankan. Budaya minum kopi adalah identitas masyarakat Hakka, etnis mayoritas di kota ini. Perjumpaan formal dan informal dilangsungkan di warung kopi, dari pertemanan sederhana hingga pembicaraan politik serius.

Bukan. Saya ke sini bukan untuk menikmati kopi. Sejatinya saya hanya tertarik untuk membaurkan diri dalam kebiasaan kultur lokal. Lebih tepatnya, saya ingin melihat aktivitas di sempadan pantai Selatpanjang menjelang tenggelamnya matahari yang mana lusinan kapal bersandar di dermaga.

Sebuah kapal kayu besar merapat ke patok-patok kayu yang membatasi pelabuhan, tidak jauh dari tempat saya duduk. Tiga pemuda bersama seorang opa menurunkan keranjang besar-besar dari perahu itu. Dengan agak tergopoh-gopoh si engkoh kerempeng itu mengangkat keranjang bambu yang penuh berisi ikan.

Bagi saya yang bernaung di Jakarta, pemandangan ini terbilang langka. Masyarakat Tionghoa di Selatpanjang bukan pedagang dan pekerja kantoran layaknya di Jakarta, di sini rata-rata mereka adalah pemilik warung dan nelayan.

“Koh, warungnya sudah mau tutup, soalnya malam ini kita ada acara,” kata si penjaga memecah lamunan. Saya melempar senyum dan beranjak.