Seikat Rambutan Bulungan

“Ini rambutan ambil buat bekal jalan,” kata ibu itu sambil menyerahkan seikat rambutan. Pemberian yang tidak saya antisipasi karena selain cuma-cuma, sopir saya juga hanya berhenti untuk numpang pipis.

Kalau numpang pipis saja gratis rambutan, mungkinkah numpang boker gratis durian?

Inilah Bulungan. Bukan Bulungan di seberang Blok M. Melainkan Bulungan yang asli, provinsi Kalimantan Utara yang baru saja berdiri. Siang ini saya melakukan perjalanan panjang lintas-provinsi dari Tanjung Selor menuju ke Tanjung Redeb, atau yang lebih dikenal dengan nama Berau.

Menerabas provinsi termuda di Indonesia memang sensasi tersendiri. Di sepanjang jalan, jumlah mobil yang berpapasan dengan kami dapat dihitung dengan jari. Meskipun jalan relatif beraspal mulus, lintas timur Kalimantan ini benar-benar sunyi.

“Kalimantan Utara ini kan dibentuk gara-gara Malaysia,” si sopir memulai pembicaraan, “Katanya daerah perbatasan Kalimantan itu pembangunannya tertinggal jauh dari Malaysia. Tapi kok sekarang ibukotanya malah di Tanjung Selor. Kan seharusnya di perbatasan sana. Di Nunukan atau Malinau sana.”

Mungkin itu hanya sebatas sentimen dirinya sebagai Putra Malinau. Namun ada benarnya. Tanjung Selor tidak cukup ke utara sebagai ibukota provinsi. Apabila tujuan pembentukan provinsi ini memang untuk meratakan pembangunan, seharusnya ibukotanya lebih ke utara lagi.

Sambil berdiskusi panjang lebar, mobil yang hanya berisi tiga orang terus melaju ke selatan. Tidak terasa seikat rambutan yang diberikan ibu tadi pun habis dilahap kami bertiga. Sementara mendung perlahan menggantung memayungi lebatnya hutan tropis Kalimantan.

Tidak lama lagi kami akan tiba di Berau. Untuk sebuah petualangan yang baru.