Ciamis yang Dulu Tertinggal

Perjalanan kereta sesaat tersendat. Kemudian berhenti. Beberapa orang bangkit dari kursinya tanpa dikomando, menarik tas-tas besar dari kompartemen di atas kepala masing-masing dan bergegas turun. Saya melongokkan kepala keluar dari jendela kereta api tua ini. Di luar sana terlihat beberapa orang menunggui di sebalik pagar bertuliskan Ciamis.

Pada masa silam, Ciamis adalah wilayah Kerajaan Galuh, sebuah kerajaan Sunda yang berada di perbatasan dengan wilayah orang-orang Jawa. Dalam catatan Van Der Meulen, pusat Kerajaan Galuh ini terletak di Ciamis saat ini, yang namanya diambil dari kata “sakaloh” yang berarti berasal dari sungai yang kemudian disimpangkan oleh orang-orang Banyumas menjadi “segaluh”.

Semenjak era republik berdiri hingga saat ini, Ciamis acapkali disebut sebagai daerah lambat berkembang. Jauhnya Ciamis dari pusat-pusat perekonomian utama di Pulau Jawa menjadi penyebab utamanya. Namun seiring dengan otonomi daerah pada dekade terakhir beserta dipecahkannya Kabupaten Pangandaran dari wilayah ini, pembangunan Ciamis lambat laun mulai tertata dan mengimbangi kecepatan daerah-daerah lain.

Peluit panjang berdenging di dekat telinga. Kereta api kembali melengos dan bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun kecil yang berada pada urat nadi perkeretapian selatan Jawa ini. Apabila ada kesempatan, suatu saat nanti pastilah saya akan menjelajah kota kecil yang terlupakan ini.