Pada Kaki Gunung Kerinci

Pada mulanya adalah hutan, kemudian perkebunan, lantas pemukiman. Kini mereka berpotongan beririsan di dalam garis batas yang semakin lama semakin kabur. Dari desa Kersik Tuo nan permai hingga ke rawa-rawa Ladeh Panjang nan muram. Kerinci bukan hanya hutan dan perkebunan, ini adalah tempat di mana manusia dan harimau hidup bertetangga.

Perjalanan semalam suntuk dari Jambi mengandaskan Wahyu dan saya di depan monumen ikonik Kayu Aro, penduduk sekitar menyebutnya Tugu Macan.

“Di depan Tugu Macan ini ada homestay Pak Subandi,” terang saya kepada Wahyu yang masih mencoba menyesuaikan orientasi mata angin, “Seharusnya masih banyak kamar kosong.”

Benar. Memang tidak terlihat ada siapa-siapa di sana, selain seorang bapak setengah baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Subandi, orang Jawa yang lahir dan besar di Kerinci. Seumur hidupnya Pak Subandi hidup di Kerinci, orang tuanya adalah buruh perkebunan teh yang dibawa Belanda dari Jawa.

“Selamat datang,” sambut Pak Subandi dengan ramah, “Kalian datang dari mana? Hari ini masih kosong kamarnya, silakan pilih salah satu.”

Jadilah kami memilih satu kamar di paling depan, dengan jendela yang memandang langsung ke jalan raya Kayu Aro yang senyap. Maksud hati ini beristirahat, namun Pak Subandi terus mengajak kami bicara sehingga saya pun urungkan niat untuk tidur pagi itu.

Beruntung secangkir teh hangat yang dihidangkan dapat mengurangi rasa letih setelah perjalanan panjang semalam suntuk melewati aspal yang meliuk-liuk tidak karuan.

“Kalian harus ke Gunung Tujuh,” pungkasnya, “Di atas sana ada danau yang bagus sekali. Kalian bisa berangkat sekarang, nanti sore sudah bisa turun.”

Tentu saja. Lupakan istirahat. Sepertinya Gunung Tujuh terdengar jauh lebih menarik.