Taman Nasional Kerinci-Seblat

Dari pos masuk yang tidak bertuan, kami melangkah masuk menyusuri jalan setapak yang buram setengah terkubur. Rerumputan liar yang menumbuhi tempat itu sudah tinggi, tanda lama tidak dilintasi. Sementara pada kanan kiri, pepohonan runduk dengan bunga-bunga merah bertebaran tidak merata menciptakan suasana semarak.

Inilah keindahan yang berbaur dengan kewaspadaan. Di sanalah manusia dan harimau Sumatera bertetangga, hidup di dalam habitat yang beririsan satu sama lain. Apabila kami beruntung, atau lebih pantas disebut kurang beruntung, bisa saja bertemu dengan sang raja hutan.

Taman Nasional Kerinci-Seblat merangkup wilayah seluas satu setengah juta hektar, termasuk di dalamnya puncak Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 meter dari ambang laut. Pada luasan nan masif itu terdapat sejumlah gunung, danau, air terjun, goa, air panas, kaldera, sungai, hingga perkebunan ilegal, dengan patahan besar Sumatera melintas tepat di tengah-tengahnya.

Dengan kondisi alam yang heterogen dan luasan seperti itu, wajar Taman Nasional Kerinci-Seblat adalah rumah bagi lima ribu spesies flora dan fauna, termasuk di antaranya empat ratus spesies burung, harimau Sumatera, macan tutul, badak Sumatera, dan gajah Sumatera.

“Harimau di sini okupansinya sangat tinggi,” tutur si bapak jagawana, “Ada lebih banyak harimau di Kerinci daripada di seluruh Cina, Vietnam, dan Laos. Artinya memang hutan ini penuh harimau apalagi di rawa-rawa sebelah sana, Ladeh Panjang.”

Tidak berlebihan rasanya. Bahkan maskot tunggal desa Kayu Aro pun berupa Monumen Harimau Sumatera yang akrab disebut masyarakat sebagai Tugu Macan. Tetapi apakah kami bisa bertemu harimau di sini? Petugas jagawana menggeleng. Untuk bertemu dengan harimau biasanya kami harus keluar malam hari. Siang-siang begini, seharusnya sih tidak.