Berkapal Kembali ke Sorong

Pemuda berkulit legam itu nampak sangat tergesa-gesa. Di pundaknya ada karung besar yang memperlambat larinya, sementara kapal nampaknya sudah akan berangkat. Saya berdiri di atas dek mengamati sibuknya dermaga Waisai. Sebuah pemandangan yang sudah lumrah mewarnai pelabuhan kecil ini setiap kali ada kapal yang segera berangkat ke Sorong.

Pungkas sudah perjalanan selama hampir satu minggu di Raja Ampat. Dari menyelami kehidupan lautan di perairan Waigeo hingga bermalam di tanah lapang terbuka Teluk Mayalibit. Raja Ampat meninggalkan sejuta kesan dan sekujur kulit tubuh yang terbakar.

Kapal bergerak menambah jarak dengan tiang dermaga, kemudian berputar balik. Deru motornya meraung-raung beradu dengan udara panas menjerang yang sedari tadi menyesaki udara. Saya melambaikan tangan ke beberapa orang yang duduk santai di tepi pelabuhan. Mereka membalas dengan senyum lebar dan lambaian tangan, khas Papua.

Berat rasanya meninggalkan Raja Ampat. Waisai punya sejuta kesan walau hanya dicumbu dalam seminggu. Biarlah saat ini saya tinggalkan tanah ini, namun suatu saat nanti saya pasti kembali.