Parade Histori Bukittinggi

Untuk sebuah kota yang terbilang muda, Bukittinggi bertaburkan lika-liku historikal. Bermula dari berdirinya Fort de Kock di puncak Bukit Jirek, kota yang terletak di ambang jurang ini terbentuk begitu saja dari pemukiman yang menjamur di seterus Pasar Agam Tuo. Selama setengah abad lamanya Belanda mengawasi Dataran Tinggi Agam dari tanah ini, hingga kedatangan Jepang.

Adalah Hirano Toyoji yang mendapuk status kota ini. Dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho, pusat Komando Militer XXV Kempetai. Semenjak itu liku histori Bukittinggi menjadi semakin penting saja hingga puncaknya menjadi ibukota sementara bagi republik ini.

Setengah minggu saya bersinggah di kota ini. Bukanlah udaranya yang dingin yang memikat saya melainkan remah-remah sejarahnya yang tersebar di seantero kota. Mulai dari Tugu Jam Gadang hingga Rumah Bung Hatta yang kesemuanya masih terawat apik melewati berbagai era.

“Bukittinggi bukan kota yang tua,” terang Hasan melalui pesan singkat dari media sosial pagi tadi, “Namun kalau kita lihat dari jumlah renik sejarahnya, kota ini sangat penting. Sisa-sisa sejarahnya begitu intens. Kelihatan di mana-mana.”

Hasan benar. Tatkala melihat remah-remah historikal Bukittinggi, saya berasumsi bahwa kota ini berusia demikian tua. Namun ternyata tidak. Bukittinggi merupakan kota yang relatif baru yang melewati lorong waktu yang begitu warna-warni. Inilah kota kebanggaan Sumatera Barat.

The Hills Hotel Bukittinggi berdiri anggun menghadap Ngarai Sianok. Saya berjalan kaki mengitari kota yang ukurannya tidak terlampau besar ini. Sudut-sudut lama Bukittinggi terasa begitu akrab, sementara sudut-sudut barunya berdentum kencang dengan perekonomian yang terus berputar.

“Tidak salah apabila Lonely Planet pernah bilang kalau kita harus mengunjungi Bukittinggi sebagai kota terakhir,” balas saya kepada Hasan, “Karena menurut mereka inilah klimaks dari penjelajahan Sumatera Barat.”