Gelak Tawa di Lhok Iboih

Barangkali Iboih adalah satu-satunya tempat di Aceh untuk menikmati alkohol, pada siang bolong, tepat di bulan Ramadhan! Setidaknya itulah yang saya lihat dari senda gurau Pierre dan Liliane, sepasang turis Prancis di Iboih siang tadi. Wajar. Sebab di sudut yang tersembunyi di Pulau Weh pada siang itu, semua adalah orang asing yang menghabiskan jatah liburannya.

Semua orang kecuali satu. Saya.

Namun saya tidak peduli. Iboih terlalu indah untuk dilewatkan. Airnya jernih membuat kapal-kapal kecil yang bersandar di dinding dermaganya terlihat seakan-akan melayang. Getar-getar ringan di permukaan airnya membuat saya abai akan panasnya siang itu.

Fathur menghampiri saya dari kejauhan. Nampaknya dia baru saja puas berbincang-bincang dengan para pemilik rumah singgah yang kebetulan lokasinya cukup jauh dari pantai. Sepi sekali. Mungkin hanya ada setengah lusin manusia di paparan pantai pada siang itu.

“Terang saja sepi,” jawab Fathur mengomentari saya, “Ini kan bulan puasa. Mana ada orang mau ngendon panas-panas di pantai pada bulan puasa. Selain kita.”

Fathur benar. Cuma orang setengah waras yang berpuasa sambil berpanas-panas di tepi pantai. Karena saya tidak berpuasa, berarti Fathur adalah satu-satunya orang setengah waras yang dimaksud itu.

France? Ah, I have been to Paris before,” terang saya yang dibalas dengan tatapan setengah tidak percaya oleh sepasang turis Prancis itu, “My favourite sights are Louvre and Versailles.”

Turis Eropa memang unik. Ketika lazimnya turis-turis asing mengunjungi Bali, turis-turis Eropa justru sering terlihat di tempat-tempat semi-populer layaknya Cubadak, Iboih, atau Enggano. Entah mengapa, sebab tempat-tempat itu pun saya yakin orang Indonesia sendiri banyak yang tidak mengenalnya.