Kilometer Nol Indonesia

Bahkan teruntuk sebuah negeri yang terbentang enam ribu kilometer, segalanya masih harus dimulai dari kilometer nol. Saya termenung di tepi tebing terdepan Indonesia. Di seberang sana adalah tanah yang sama sekali asing, yang didiami oleh bangsa yang sama sekali berbeda, yang menjadi kepunyaan negara yang sama sekali berlainan.

Sementara di belakang saya adalah Indonesia. Terbentang sejauh enam ribu kilometer. Di sinilah garis batas tanah air tercinta ini, dibentengi oleh dinding karang palisade, beradu dengan debur gelombang Samudera Hindia yang mengingatkan saya akan suatu perjalanan panjang. Perjalanan yang baru dimulai.

Perjalanan adalah proses menemukan diri sendiri. Dan pagi ini saya menemukan diri saya berdiri di titik nol. Bagi petualang nusantara, Sabang adalah pangkal dari sebuah pengembaraan panjang. Menapakkan kaki di Sabang berarti mencoret satu destinasi dari daftar cita-cita.

Bagi Fathur saya rasa sama. Entahlah. Saya berkenalan dengannya baru pagi ini, seorang sahabat baru di ujung negeri. Dari kilometer nol, tatapan saya terkunci pada sebuah tugu lusuh dekil yang catnya sudah mengelupas. Sebuah tugu yang segera menjadi monumen awal dari perjalanan membelah nusantara, satu totem bagi awal perjalanan saya melintasi daratan Sumatera empat bulan ke depan.

“Ayo kita ambil foto dulu di ujung Indonesia,” kata Fathur menyuruh saya berdiri di ujung batu, “Kalian berdua berdiri, saya yang foto. Nanti gantian.”

Demikianlah. Setengah jam kami berada di tempat ini, langkah berikutnya adalah melanjutkan perjalanan menuju Banda Aceh, sebelum melangkah lebih jauh lagi. Saya menatap jauh ke arah laut lepas, terlihat lamat-lamat bayangan kapal berlayar di sebalik Pulau Rondo. Suatu saat nanti saya pasti akan kembali lagi ke tempat ini.