Melepas Malam di Bau-Bau

Kepala naga itu menjulang di tengah alun-alun seakan menyembul dari bawah tanah. Sementara ekornya mencuat lima kilometer di tempat lain, tepatnya di depan Kantor Bupati Bau-Bau. Secara virtual, patung naga Bau-Bau ini sebenarnya adalah patung naga terpanjang di dunia, lantaran jarak dari ujung kepala hingga ujung ekornya mencapai lima kilometer.

Patung adalah simbolisasi. Sang naga di Bau-Bau secara simbolis menggambarkan kedekatan Kesultanan Buton dengan Kekaisaran Tiongkok lima abad lampau. Jalinan hubungan antara penguasa Wolio dengan imperium terbesar di Asia Timur inilah yang menandai masa-masa keemasan Kesultanan Buton.

Malam di Bau-Bau lebih hidup daripada malam di Kendari. Bukan hanya saya yang terkesan, namun Rudy yang notabene adalah orang Sulawesi pun heboh sendiri menyadari betapa meriahnya Pulau Buton.

“Ternyata Bau-Bau kotanya bagus, ramai lagi,” seru Rudy kepada orang tuanya melalui telepon, “Bahkan kota ini lebih meriah daripada Kendari.”

Rudy benar. Malam di Waterfront Bau-Bau memang lebih meriah daripada Teluk Kendari. Namun hal itu sebenarnya tidak janggal andaikata kita memandang jauh ke akar historis kota ini. Kota Bau-Bau adalah jantung yang sebenarnya dari peradaban Sulawesi Tenggara. Selama ratusan periode, kerajaan berganti kerajaan, kesultanan berganti kesultanan, Pulau Buton memegang tongkat komando.

Sepiring roti bakar cokelat dan segelas saraba menemani malam pertama saya di Bau-Bau. Sementara di pelataran pantai itu ribuan orang lumer dalam satu keriuhan. Lapak-lapak penjual makanan ringan dan barang-barang remeh berjajar rapi mengular mengikuti alur garis pantai.

Malam itu kami berjalan kembali menuju hotel. Terlihat patung naga menjulang angkuh berpendar cerah di tengah kegelapan pantai. Ah, saya kok jadi teringat sama Patung Merlion di Singapura. Ada-ada saja.