Mateos Anin dan Lopo Mutis

Bertemu dengan Mateos Anin adalah belajar tentang ramah tamah. Beliau adalah generasi kesebelas dari klan Anin Fuka, sebuah suku pedalaman yang pertama kali mendiami tanah Fatumnasi. Di desa kecil di lereng Gunung Mutis inilah Pak Anin memimpin Suku Mollo dari Lopo Mutis, lopo berarti rumah sedangkan Mutis adalah nama gunung tertinggi di Pulau Timor.

Kedatangan saya ke Fatumnasi disambut dengan seringai lebar dari kakek tua yang usianya sudah lebih dari tiga per empat abad. Hanya butuh beberapa menit bagi kami berdua untuk mencairkan suasana di rumah kayu itu. Kedatangan dari Solo membuat Pak Anin terkesima, beliau pernah mengunjungi Solo beberapa tahun silam, ketika itu sebagai tamu undangan dari Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta.

Pak Anin berbicara dalam bahasa yang tidak saya pahami dengan sanak keluarganya. Namun dengan saya beliau berusaha sebisa mungkin berbicara dengan Bahasa Indonesia baku yang lancar. Salah satu cerita konyol yang dikisahkan Pak Anin adalah ketika beliau mengunjungi Candi Borobudur dan panik karena dikejar-kejar oleh pedagang suvenir.

“Selama lima hari terakhir tidak ada orang berkunjung ke Fatumnasi,” celoteh Pak Anin ihwal kedatangan saya, “Biasanya memang di musim hujan seperti ini tidak banyak orang yang naik ke sini.”

Saya hanya tersenyum mendengar penjelasan itu. Pak Anin menyerahkan sebuah buku tamu untuk saya isi, terlihat nama-nama orang asing memenuhi halaman demi halaman. Sementara dalam dua bulan terakhir hanya segelintir yang berasal dari Indonesia, dua di antaranya berasal dari Jakarta.

Meskipun usianya telah uzur, Pak Anin masih melakukan rutinitasnya sejak muda. Setiap pagi, beliau berjalan ke padang rumput untuk memberi makan ternak-ternaknya. Beliau mempunyai beberapa ekor sapi, kerbau, dan kuda yang dilepaskan begitu saja di hampar padang rumput Fatumnasi. Di Fatumnasi, kepemilikan hewan ternak menjadi ukuran kekayaan dari sebuah keluarga.

“Sebentar, saya ambil dulu ikat kepala dan tongkat saya,” ucapnya ketika saya meminta izin untuk memotretnya. Tidak lama kemudian Pak Anin keluar dengan berpakaian adat Timor lengkap, saya pun menyambutnya.