Malam Temaram di Pontianak

Pontianak tidak pernah tidur. Sudah selewat pukul sembilan malam namun jalanan di kota yang sah-sah saja disebut paling dinamis se-Kalimantan ini masih demikian riuh. Anak-anak muda bercengkerama di kafe-kafe tenda yang bertebaran di sepanjang jalan protokol, duduk menikmati kopi, menyesap rokok, beratapkan langit kelam berhiaskan purnama sempurna.

Memang, Pontianak telah banyak berubah. Lima tahun silam jalanan ini belum dipenuhi gedung-gedung tinggi dan baris-baris pencakar langit. Namun kini hotel-hotel segala bintang tumbuh berjajar di kanan kiri jalan, mulai dari hotel rantai internasional hingga merk lokalan yang punya pasar masing-masing. Singkat cerita, ekonomi Kota Pontianak sedang berdenyut kencang.

Saya duduk di salah satu kafe yang terletak di seberang Hotel Neo yang baru selesai dibangun. Di seberang jalan sana terlihat sepasang muda-mudi membawa gitar berjalan dari satu kafe ke kafe yang lain. Pemandangan yang mengingatkan saya kepada kafe-kafe emperan di Jakarta Selatan beberapa tahun yang lalu.

Ini adalah kunjungan keempat saya ke Bumi Khatulistiwa. Kali ini saya akan mencoba untuk menyusuri sudut-sudut Kalimantan Barat yang terlewatkan pada masa lampau. Udara malam itu hangat, tidak terlampau dingin, sementara semilir angin bertiup pelan-pelan membenamkan angan saya kepada masa-masa yang dulu pernah saya lewati di sebaran Bumi Khatulistiwa.