Sejenak di Museum Gorontalo

Bermodalkan Google Map, saya berjalan kaki menyusuri jalan sempit berdebu yang membelah sebuah perkebunan. Dari pusat Kota Gorontalo menuju ke Museum Gorontalo yang terletak di ujung timur kota. Perlu waktu sekitar setengah jam berjalan kaki untuk mencapainya, segalanya cukup baik terkecuali kondisi jalan yang sempit memaksa saya harus ekstra melipir ketika ada kendaraan besar lewat.

Museum Gorontalo bukanlah salah satu tujuan utama wisatawan ke kota ini. Saya hanya mampir lantaran saya punya sedikit waktu sisa menunggu kedatangan mobil yang akan menjemput saya menuju ke Tolitoli. Kedatangan saya di museum ini pun bukan disambut oleh senyuman ataupun gapura selamat datang, melainkan sekelompok sapi yang merumput di lapangan yang terhampar di depan gedung museum.

“Selamat pagi,” sapa saya yang dibalas dengan senyuman ramah salah satu ibu tua berkacamata yang menjaga museum tersebut. Saya menanyakan karcis masuk namun ibu tersebut hanya menggelengkan kepala kemudian mengatakan bahwa semua ini gratis.

Dilihat dari usia museumnya, nampaknya Museum Provinsi Gorontalo ini masih cukup baru, barang koleksinya belum banyak, dan tiket masuknya pun gratis. Ketika menyusuri bagian dalamnya pun jumlah koleksi yang ada boleh dibilang masih sangat minimal, hanya terdapat sekitar dua lusin potret keluarga kerajaan, sekitar selusin barang porselen peninggalan kuno, dan sebuah rumah adat kayu yang dipancang pada ruangan utama museum.

Selebihnya museum ini memajang lukisan-lukisan patriotik karya anak-anak sekolah dari Gorontalo dan sekitarnya.

Saya mengamati satu per satu lukisan yang terpapar di sana, termasuk di antaranya terdapat lukisan Haji Buulu yang konon menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengendarai rusa menuju ke Tanah Suci. Entah benar atau tidak, yang jelas kisah ini populer di kalangan warga masyarakat Gorontalo dan menyebabkan tokoh yang bersangkutan dikenal sebagai Haji Rusa.

Hanya perlu waktu lima belas menit bagi saya untuk menyelesaikan seisi museum. Jauh lebih lama dari waktu yang perlukan untuk berjalan dari kota ke sini. Saya pun melempar senyum kepada ibu penjaga dan meninggalkan museum ini, dari sorot matanya saya bisa membaca ada sedikit rasa keheranan mengapa ada orang yang mau jauh-jauh datang ke tempat itu. Entahlah. Saya suka saja ke museum.