Dari Menara Pandang Siring

Yang unik barangkali adalah dinamika ekonomi di sekitar sungai. Saya melihat banyak pedagang roti keliling yang menjajakan rotinya di atas perahu-perahu kecil yang menyusuri sungai. Mereka berputar-putar di sekitar Sungai Martapura dan Sungai Antasan untuk menawarkan roti kepada para penghuni rumah yang tinggal di tepi sungai tersebut.

Kota Banjarmasin adalah kota yang sangat ramai. Bahkan saya menganggapnya sebagai kota paling ramai di Kalimantan. Dibandingkan Balikpapan dan Pontianak, Banjarmasin termasuk kota yang punya dinamika penduduk lebih tinggi, lebih semrawut, dan lebih padat hiruk pikuknya. Meskipun di dalam hal pembangunan boleh dibilang Banjarmasin agak terlambat berlari apabila dibandingkan dengan, misalnya, Balikpapan.

Salah satu bangunan baru yang menarik perhatian dalam kunjungan kedua ke Kota Seribu Sungai ini adalah Menara Pandang Siring. Bangunan yang berupa gedung empat lantai dengan dua menara di sisinya ini merupakan lokasi pandang terbaik untuk mengamati riuhnya Kota Banjarmasin dari tepi Sungai Martapura.

Kamal bersama saya pada pagi itu duduk di atas terasnya, mengamati lalu lalang perahu motor yang lambat laun semakin berkurang dan mulai tergantikan oleh kendaraan-kendaraan darat. Bagi saya ini adalah tempat ideal untuk melepas siang hari yang panas sebelum bertolak kembali ke Jakarta.