Berselancar di Karanghawu

Selain kami, ada sekelompok warga Australia yang bermalam di sebuah guesthouse tidak jauh dari rumah Pak Emi. Menurut pengakuan Pak Emi, pantai selatan Banten justru lebih populer di kalangan bule-bule Australia daripada kalangan turis-turis domestik. Ini mungkin disebabkan oleh tujuan rata-rata mereka berkunjung ke Sawarna adalah surfing, hobi yang populer di Australia.

Tidak salah. Kondisi ombak di Pantai Ciantir memang nampak sangat menjanjikan untuk kegiatan ini.

Bukan penikmat olahraga surfing, wajar jika saya lebih tertarik kepada pasir putihnya. Dari kunjungan saya ke banyak pantai di seantero Pulau Jawa dan Kalimantan, dapat saya ungkapkan bahwa Banten punya jajaran pantai pasir putih terbaik.

“Di sini anak-anak kelas dua SMP sudah pintar surfing,” terang Pak Emi. Barangkali sama seperti anak kelas dua SMP di Bandung sudah pintar programming. Tidak mengherankan karena, selain pantainya memang sangat layak untuk surfing, di tempat tersebut nyaris tidak ada hiburan urban semacam mall, diskotik, atau warnet.

Menjelang sore, mendung mulai menggelayut. Bahkan langit di sisi barat pantai telah terlihat gelap gulita. Kami berdua pun bergegas kembali ke Sawarna dan berhasil tiba sesaat sebelum hujan deras mengguyur desa. Sesampainya di rumah Pak Emi, kami diajak untuk makan sambil menonton televisi yang suaranya teredam oleh hujan deras.

Sore itu sebenarnya kami berencana untuk mengabadikan panorama sunset. Namun hujan deras yang mengguyur Sawarna membuat kami tertahan di desa. Meskipun demikian hal tersebut tidak mengecewakan, sebab kami sudah memperhitungkannya sebelum berangkat. Uniknya pada pukul enam sore, sesaat sebelum matahari tenggelam, hujan mendadak reda. Saya pun berlari menuju pantai dengan harapan masih mendapatkan momen sunset untuk diabadikan.

Namun sesampainya di pantai, kami berdua hanya tertegun karena pantainya kebanjiran! Pasir putih yang menghampar luas siang tadi lenyap, digantikan oleh genangan air setinggi pergelangan kaki bagaikan danau yang baru terbentuk. Sementara matahari sendiri tertutup awan putih yang melayang rendah. Meskipun tidak mendapatkan momen sunset yang diinginkan, kami cukup puas menyaksikan pemandangan menakjubkan itu : genangan air bagaikan danau tanpa batas!

Kami kembali ke desa sesaat menjelang malam. Meskipun melintasi jalanan yang becek dan gelap gulita, kami sampai dengan selamat di rumah Pak Emi. Malam itu kami habiskan untuk beristirahat bersama sambil menonton televisi. Dari penuturan Pak Emi pula, kami mempertimbangkan untuk mengunjungi Karang Taraje keesokan harinya.