Bermotor Lintas Pulau Weh

Saya terdiam. Seorang wanita bercadar hitam serba tertutup, menyisakan sebaris lubang di kedua kolom matanya beranjak keluar dari rumah kayu yang ada di ujung jalan itu. Wanita itu menatap saya sebentar kemudian menghampiri rak botol yang tidak jauh dari tempat saya berdiri.

“Satu liter saja,” saya berusaha menjawab sebelum ditanyai. Wanita itu hanya diam membisu kemudian menuangkan sebotol bensin ke tangki sepeda motor.

Meskipun saya paham bahwa Aceh adalah episenter agama Islam di Indonesia, baru hari ini saya bertemu dengan wanita bercadar di wilayah ini. Itu pun di tempat yang tidak terduga-duga, sebuah kios bensin.

Fathur dan saya menggeber sepeda motor masing-masing melintasi aspal mulus Pulau Weh. Matahari sudah agak tinggi sewaktu kami berlalu meninggalkan titik nol Indonesia, berkendara menuju ke sentral kota Sabang pada ujung timur pulau mungil ternyata tidak sesingkat yang saya bayangkan. Kami harus berkendara naik turun bukit sebelum akhirnya sampai di keramaian kota.

“Saya kembalikan dulu motor ini ke hotel,” saya berucap sedikit berteriak kepada Fathur, “Setelah itu kita bisa berkendara bersama dengan satu sepeda motor saja.”

Sebenarnya yang saya definisikan sebagai sepeda motor adalah sebuah vespa rongsokan.

Alhasil saya harus berulang kali turun dari vespa renta untuk mengatasi tanjakan demi tanjakan dengan berjalan kaki. Sementara Fathur sering terlihat kepayahan mendorong kendaraan reyotnya untuk naik turun di perbukitan Pulau Weh. Satu-satunya yang menghibur kami di perjalanan adalah pemandangan cantik yang terpapar indah di bawah sana.

“Dengan vespa ini kita masih bisa berkeliling kota Sabang sebelum kembali ke Banda Aceh,” kata Fathur dengan napas tersengal-sengal. Entahlah, saya tidak yakin.