Peluncuran Jepang ke India

Hiraoka Kumeichi barangkali belum pernah mendengar nama Sabang sebelumnya. Namun teruntuk sang admiral, menarik sebagian besar armada Jepang dari Penang ke Aceh adalah demi sebuah cita-cita yang lebih tinggi, menguasai India. Penguasaan terhadap seantero Asia tidak mungkin berhenti di Indonesia ataupun Tiongkok. Itulah mengapa Jepang menyandarkan armada baharinya di Aceh, menjadikan Sabang sebagai landas pacu kapal-kapal penggempur India.

Sial bagi Jepang. Perang berakhir prematur, menghabisi ambisi besar tersebut. India tidak beranjak dari tangan kolonial Britania Raya, sementara Jepang harus menyerah, mengakhiri perjalanan menuju mimpi menguasai Asia. Kini di Sabang tersisa sebuah dinding pertahanan yang telah berlumut. Monumen kusam akan sebuah invasi yang gagal.

Dahulu Jepang pernah menaruh harapan besar kepada tanah ini. Armada danawa angkatan laut Jepang disituasikan di cekungan teluk ini, berbaris berjajar menanti perintah keberangkatan ke barat. Gempuran masif ke India hanyalah rencana di atas kertas. Mereka pulang mengakhiri kampanye besar yang gagal usai pasukan sekutu menjatuhkan dua bonggol bom atom.

Kini bekas-bekas benteng bersejarah itu teronggok di tepi laut Sabang. Diabaikan dalam kesunyian, tanpa seorang pun mau merawatnya. Dindingnya yang pernah perkasa kini setengah runtuh dan berselimut lumut, dengan kanon-kanon berkarat masih terlihat di beberapa sudutnya.

“Teuku Nyak Arif menyambut kedatangan mereka,” ucap Pak Hasan berceritera, “Saat itu kami berpikir bahwa setelah Belanda kalah keadaan akan membaik. Kami keliru. Di tangan Jepang, seluruh harta kami malah dirampas. Bahkan pagar-pagar besi rumah pun dicopot dan dilebur untuk dibikin meriam.”

Barangkali mimpi Jepang terlampau besar. Rencana invasi akbar untuk menguasai seantero Asia adalah sebuah target kurang waras yang membuat mereka berhadapan dengan separuh dunia.

Apalah mau dikata, kekalahan sebenarnya sudah diramalkan.

Berakhirnya perang pada bulan Agustus membuat pangkalan pertahanan ini secara de jure menjadi milik republik yang baru berdiri. Namun secara de facto, ia tidak bertuan. Hingga saat ini berdiamlah ia di sana dengan sisa-sisa dindingnya, menghadap ke kesunyian Teluk Sabang.