Melepas Sauh di Bumi Andalas

Baru satu kota dan fisik saya sudah hancur lebur. Kapal fery berjalan lambat-lambat membelah hampar Selat Benggala, meninggalkan Sabang menuju ke daratan luas Pulau Sumatra. Saya duduk bersandar di lorong sempit, hanya dipisahkan oleh buluh-buluh besi berkarat dengan laut lepas.

Perjalanan ini sebenarnya terlalu membosankan untuk dilewatkan dengan diam. Namun Fathur membisu di sepanjang perjalanan, mungkin tidak tahu lagi apa yang harus kita perbincangkan atau mungkin juga terlampau lelah. Perjalanan empat jam ini nantinya berakhir di dermaga Ulee Lheu. Sekarang saya hanya ingin beristirahat.

Udara panas jahanam memang sudah menaungi kami sejak pagi tadi. Mulai dari kilometer nol Indonesia hingga kami meninggalkan Pulau Weh untuk kembali ke daratan Sumatera. Apa boleh dikata, nasib para pejalan berkantong cekak seperti kami memang tidak mempunyai banyak pilihan selain banyak-banyak bertoleransi terhadap segala situasi dan kondisi.

Jadilah kami yang mengantongi dana terbatas ini hanya bisa duduk di emperan kapal beralas lantai besi berkarat, satu-satunya yang dapat disyukuri adalah bedeng peneduh yang sedari tadi menangkal cahaya matahari sore. Fathur duduk diam. Saya membongkar-bongkar halaman demi halaman Lonely Planet sebagai pembunuh kebosanan selama empat jam perjalanan. Kapal ini memang tidak terlampau penuh, namun berisiknya begitu terasa antara bauran suara mesin dan rumpian Bahasa Aceh yang terasa begitu asing di telinga saya.

Sesekali orang lewat berseliweran di hadapan kami. Lantaran sempitnya lorong yang kami duduki, saya berulang kali harus berdiri hanya untuk memberi kesempatan orang-orang lewat. Apa mau dikata.

Empat jam kemudian, kami berlepas dari perairan Sabang nan indah dan bersandar di dermaga Banda Aceh yang riuh. Sore itu matahari sudah rendah namun panasnya masih tidak terkira. Fathur berjalan gontai ke lantai bawah untuk memungut vespa uzurnya, tiba-tiba saya teringat bahwa kendara penuh tantangan ini masih berlanjut.

“Sekarang kita kunjungi tempat-tempat unik di Banda Aceh yang belum sempat kita samperin,” ajak saya kepada Fathur yang entah kenapa membangkitkan kembali semangatnya. Dengan penuh semangat, vespa bobrok itu digeber lagi, berjalan lambat dengan suara kencang mengundang perhatian, menembus aspal mulus Banda Aceh.