Kendara di Atas Vespa Tua

Ada dikata bahwa yang terpenting dalam hidup adalah pengharapan. Saya hanya berharap agar komponen sekuter ini tidak lepas terpisah-pisah ketika dikendarai melintasi jalanan Banda Aceh yang bergelombang bagai keripik Chitato. Dewi Fortuna masih berada di pihak kami. Saya dan Fathur berhasil melewatkan dua hari di atas vespa renta ini dengan selamat.

Memang. Vespa identik dengan kesan retro. Atau kuno jika boleh meledek. Namun alih-alih terlihat nyentrik dan klasik seperti adegan film Lupus, kamis justru terlihat demikian memprihatinkan. Beberapa kali saya harus menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa knalpotnya tidak tercecer di jalan raya.

Sesekali deru kencang vespa tua dan asap hitam yang mengepul dari pantatnya membuat orang-orang di sepanjang jalan menoleh ke arah kami. Apa boleh buat, meskipun suaranya kencang lajunya begitu pelan dan tersengal-sengal. Jalanan yang mendaki sedikit pun dilintasi dengan penuh susah payah. Salah-salah bukan naik tetapi malah mundur.

“Kamu tenang saja. Dahulu saya naiki vespa ini dari Bandung ke Banda Aceh,” sela Fathur. Nah, itu baru namanya dedikasi.