Ini Museum Kalimantan Barat

Andaikata disandingkan dengan museum-museum provinsi lain di Indonesia, bolehlah Museum Provinsi Kalimantan Barat ini berhak berdiam di papan atas. Pasalnya tidak hanya koleksinya yang komprehensif, namun arsitektur bangunannya pun ditata sedemikian rupa seakan-akan kita menjejalah ke sudut-sudut rumah betang yang masif.

Tidak salah. Menurut Connie memang Museum Provinsi Kalimantan Barat beberapa kali pernah didapuk sebagai museum percontohan, utamanya bagi provinsi-provinsi lain di Kalimantan. Yang menarik, tiket masuknya pun tidak memberatkan karena, kalau tidak salah, hanya dua ribu rupiah.

Museum Provinsi Kalimantan Barat memang menyimpan variasi koleksi, namun fokus utamanya adalah pada peleburan tiga etnis utama provinsi ini, yaitu Dayak, Tionghoa, dan Melayu. Masing-masing dari tiga etnis besar tersebut mempunyai teritori etalase tersendiri di dalam museum ini.

“Yang paling menarik tentu saja kebudayaan Dayak,” ucap Connie, “Sebab budaya Tionghoa dan Melayu mungkin mudah ditemui di luaran Kalimantan. Sedangkan etalase budaya Dayak menurut saya eksklusif di wilayah Kalimantan.”

“Dan Taman Mini,” sambung saya berkelakar, kemudian kami berdua meneruskan berjalan pelan-pelan menyinggahi satu per satu etalase yang kaya koleksi.

Museum besar dengan dua lantai ini ditata sedemikian rupa hingga mempunyai pencahayaan yang apik, meskipun gelap namun tidak terkesan singup. Di balik bangunan utama juga terdapat sebuah taman yang menyimpan koleksi replika peninggalan sejarah, semisal perahu kuno dan prasasti batu.

Connie berjalan agak cepat menyusuri sudut museum, nampaknya sudah tidak sabar untuk mengajak saya ke halaman belakang. Ini memang kunjungan kedua saya di Pontianak, namun keberadaan seorang pemandu lokal seperti Connie memang banyak memberikan nuansa lain dalam penjelajahan kali ini.