Kunjungan ke Pasar Tomohon

“Nggak mau! Nggak mau! Pokoknya cuma aku makan tikus!” seorang anak kecil beteriak-teriak menangis kencang, menjejak-jejakkan kakinya, di depan pelataran pasar yang riuh.

“Diam kamu! Kemarin kita sudah makan tikus. Hari ini papah kamu minta soa-soa (kadal)!” jawab ibunya sambil menarik-narik tangan anaknya yang tidak mau meninggalkan pasar.

Dan saat itu jugalah saya yakin bahwa saya akan menonton pertunjukan yang tidak biasa. Sudah barang tentu saya tidak keliru. Tumpukan bangkai anjing-anjing tumpang tindih di barisan meja-meja pedagang menyambut kedatangan saya di lorong pasar yang sempit. Di sebelahnya terdapat satu kios sepi tempat seorang ibu memajang setumpuk daging kucing sambil menatap iri ke arah kios di seberangnya.

Di seberangnya, kontras, kerumunan orang mengerubuti seorang nenek yang berjualan daging kelelawar yang seperti habis dibakar utuh-utuh. Hidang favorit rupanya.

Orang Tomohon makan semua yang berkaki empat, kecuali meja. Anjing, kucing, tikus, biawak, monyet, kelelawar, kuskus, ular, hingga kadang-kadang buaya menghiasi setiap sudut Pasar Tomohon.

Seakan-akan tidak ada hewan yang selamat di sini. Kucing lewat pun bisa dikarungin.

Seorang ibu bertubuh gemuk nampak cemberut ketika saya berusaha memotret tikus-tikus dagangannya tanpa ada niat membeli. Lagipula buat apa saya beli tikus? Tikus-tikus tersebut dikuliti kemudian dibakar sebelum dipajang di atas tampah bambu, sementara ekornya menjuntai panjang keluar. Ketika saya coba sentuh, dagingnya terasa kenyal seperti karet sandal jepit.

Lain lagi dengan hidangan favorit yang satu ini, paniki, alias kelelawar. Hewan pengerat yang sayap dan kakinya sudah dipangkas ini dipajang seperti tumpukan granat. Berwarna hitam dengan kepala mencuat dan mulut menganga lebar. Harganya dua puluh ribu rupiah per ekor. Belum ditawar.

Setiap akhir pekan, pasar ini akan lebih meriah dari biasanya. Pasalnya para pedagang ular dari gunung akan turun ke pasar ini untuk menjajakan tangkapannya. Bukan ular kecil seperti yang sering kita sate di Jawa, melainkan ular-ular raksasa semacam ular piton yang panjangnya sebelas meter!