Kapal Merapat di Sekupang

Kampung Sekupang tercetus dua ratus tahun lampau. Dari sebuah perkampungan nelayan kecil dengan ekonomi yang berputar sekenanya, hingga lantas menjelma menjadi salah satu pelabuhan internasional yang melayani rute padat menuju Singapura.

Persinggahan di Pelabuhan Internasional Sekupang cukup mengejutkan saya, lantaran ekspektasi akan pelabuhan lapuk kumuh ternyata tidak sesuai kenyataan. Pelabuhan Sekupang mempunyai gedung yang modern dengan area penumpang dan lapangan parkir yang tertata rapi. Bahkan boleh dibilang Pelabuhan Sekupang di Batam jauh lebih bermartabat daripada Pelabuhan Tanah Merah di Singapura.

Langkah kaki saya keluar dari gedung pelabuhan langsung disambut oleh terpaan panas menyengat. Seperti yang saya duga sebelumnya, saya terbentur masalah klasik Indonesia, sistem transportasi. Boleh dibilang akses yang serba mudah di Singapura membuat saya sedikit manja dengan ketersediaan akses transportasi di Indonesia. Selamat datang di dunia nyata.

Terlepas dari kondisi Pelabuhan Sekupang yang sudah baik, akses dari dan ke pelabuhan ini boleh dibilang masih sangat minim.

Sembari agak menyeret tas ransel yang sudah kepalang berat, saya pun menyetop taksi untuk langsung meluncur ke pusat keramaian Batam. Entah ke Nagoya atau Batam Center, biarlah di perjalanan itu semua saya putuskan. Yang penting sekarang saya harus angkat kaki dari sini.