Sekilas Soal Pulau Rempang

Dari padatnya Nagoya di hingga senyapnya Pantai Cakang, terbentang empat pulau yang dihubungkan oleh aspal mulus mengular sepanjang tujuh puluh kilometer. Pada medio mencuatnya ide akan otorita Batam di era Orde Baru, keempat pulau ini diproyeksikan menjadi lengan industri bagi segitiga ASEAN, Singapura-Johor-Batam. Namun di tengah dentum Batam di ujung utara, ketiga pulau lainnya masih diselimuti kesunyian.

Tidak terkecuali Pulau Rempang, sebuah pulau yang menjembatani Pulau Batam dan Pulau Galang. Tidak jarang pulau ini hanya dianggap sebagai singgahan teruntuk para turis yang ingin mengunjungi kamp pengungsi Vietnam. Tidak lebih.

Siang itu saya bermotor seorang diri menyusuri laluan mulus yang membentang dari Nagoya ke Cakang. Sesaat setelah melintasi landmark Jembatan Barelang, saya berhenti sejenak di tepi jalan raya, mengamati lautan tenang yang berada tepat di seberang Tanjungpinang.

Pulau Rempang pada mulanya adalah kawasan hutan. Berbeda dengan Pulau Batam yang berdentum-dentum karena industrinya dan Pulau Galang yang mendunia lantaran statusnya sebagai kawasan pengungsi UNHCR, Pulau Rempang menjalani hari-hari dalam senyapnya hutan. Bahkan setelah jalan raya dibangun membelah pulau ini pada awal medio 1990-an, pulau ini belum banyak berdenyut.

“Namun itu semua cerita lama,” ungkap Pak Usman yang saya temui di sebuah warung di tepi jalan, “Listrik sudah lama masuk sini dan sepertinya sudah ada tanda-tanda tanah akan dilepas ke investor. Akan banyak pembangunan di sini.”

Banyak pembangunan dan banyak pula kerusakan alam. Hamparan hutan yang setengah mengering di hadapan saya mungkin tidak akan lama lagi bertahan, berikutnya pohon-pohon naas ini akan dipapas habis untuk memberikan ruang bagi pembangunan. Entah apa rencana pemerintah untuk mengembangkan kawasan ini, namun hati kecil saya lebih senang apabila Pulau Rempang dibiarkan apa adanya, sebagai penyeimbang bagi deru industri Batam dan pesona historis Galang.

Jauh di pedalaman Pulau Rempang ini juga terdapat sebuah suku bernama Suku Utan. Suku bangsa kecil bagian dari Indonesia yang mendiami hutan-hutan Pulau Rempang ini tidak lama lagi juga akan semakin terdesak huniannya. Bahkan bukan tidak mungkin mereka akan tercerabut dari habitatnya dan dipaksakan untuk berasimilasi dengan kehidupan modern.