Sudut Sunyi Pulau Rempah

Hari ini hari terakhir di bulan suci. Tidak ada seorang pun terlihat berada di pantai ini, barangkali terlampau panas untuk mereka yang sedang berpuasa. Atau mungkin mereka juga punya kesibukan lain untuk mempersiapkan hari raya yang sudah sedemikian dekat. Sementara saya bersama Awhy justru menyempatkan diri mengunjungi salah satu pantai di Ternate.

Memang tidak ada seorang pun di sana. Jadilah kami berdua berjalan sendirian menyusuri paparan pantai yang sunyi senyap. Di seberang sana terlihat Pulau Hiri yang hanya terpisah sejauh sepelemparan batu.

Panas matahari yang membara membuat sekujur kulit tersengat, barangkalin beberapa saat lagi saya akan menjadi legam seperti Awhy. Tetapi saya mencoba untuk tidak peduli karena sunyinya Pulau Ternate inilah yang memang saya cari semenjak perjalanan dari Jakarta. Kesan bahwa pulau ini dulunya adalah sentra perdagangan yang ramai mungkin nyaris tidak berbekas di sudut ini.

“Setelah ini kita harus pulang untuk bertemu dengan keluargaku,” ajak Awhy menawarkan kepada saya untuk menemui keluarganya yang berada di Kota Ternate. Tentu saja. Kapan lagi saya bisa berkenalan dengan mereka.