Taman Batu Angus Ternate

Batu-batu itu kusam legam bak arang yang pungkas dibakar. Sejauh mata memandang hanya nampak hamparan bongkah-bongkah batu hitam serupa di kaki Gunung Gamalama. Entah berapa abad yang telah mengakibatkan semuanya ini dimuntahkan dari perut gunung berapi yang mengatapi Pulau Ternate ini.

Inilah jejak paling kentara yang ditinggalkan oleh Gunung Gamalama di sempadan Pulau Ternate. Letup-letup sang gunung melontarkan batu-batu ke angkasa, jatuh ke tanah ini berbalur lava. Lava yang kemudian mengering dan menghitam meninggalkan bekas jejak sebuah taman penuh dengan batu-batu hitam di sepanjang garis pantai.

Lokasi wisata ini tidak banyak dikunjungi orang pada siang hari ini seperti ini. Apa lagi kalau bukan lantaran panasnya cuaca pada saat matahari berada tegak lurus di atas ubun-ubun. Pada waktu sore hari barulah orang-orang mulai nampak berdatangan kemari, selain karena suhu udara lebih bersahabat, sorot cahaya mentari yang miring dari barat memberikan siluet yang indah di batu-batu yang berserakan ini.

Saya tidak punya waktu untuk momen indah itu karena saya harus segera beranjak ke sudut lain Pulau Ternate. Jadilah Awhy mengantarkan saya ke tempat ini pada siang hari, sebelum kami menapaki jejak-jejak benteng kuno di tanah ini.

Sejatinya jalan menuju ke Taman Batu Angus ini sudah mudah diakses. Pada malam hari kadangkala terlihat beberapa anak muda melakukan aktivitas camping di sekitar sini atau menyalakan api unggun. Dari pihak pemerintah daerah nampaknya juga sudah mulai mengendus potensi wisata daerah ini dan membukakan akses yang lebih luas.

Di sebalik Taman Batu Angus, kita dapat melihat langsung pemandangan Gunung Gamalama yang menjadi induk dari batu-batu ini. Sementara di belakang saya terhampar perairan sempit yang menjembatani antara Pulau Ternate dengan Pulau Hiri, sebuah pulau kerdil yang terletak di sisi utara kepulauan ini.

“Ayo kita jalan lagi,” ajak Awhy yang nampaknya masih mempunyai banyak destinasi tersisa untuk saya, “Masih ada Danau Tolire, Pulau Maitara, dan reruntuhan benteng yang belum kita singgahi.”