Sapi Perlambang Kekayaan

“Kalau di Jakarta, orang punya mobil dan rumah sebagai lambang kekayaan, di sini orang punya sapi,” celetuk adik Pak Mateos Anin kepada saya siang itu. Kami berdua berjalan kaki di padang rumput, saya menemani beliau menggembalakan lembu-lembu yang jumlahnya nyaris satu lusin itu.

Di Fatumnasi sudah jelas, semua punya rumah. Bahkan punya tiga atau empat rumah adalah wajar karena rumah kayu biasanya berdampingan dengan lopo-lopo yang dibangun tidak jauh darinya. Sementara ihwal mobil, boleh dikata kondisi jalan Fatumnasi membuat kepemilikan mobil lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Saya mengambil beberapa rumput panjang dari semak-semak di hutan cemara, kemudian menumpuknya di depan beberapa ekor lembu. Mereka pun bergerak mendekat dan mulai mengunyah rumput-rumput yang masih basah oleh embun itu. Sementara adik Pak Anin mengambil air di tepi sungai untuk memberi minum bagi sapi-sapinya.

Kami berlalu dari kerumunan para sapi untuk menemui kuda-kuda peliharaan Pak Anin yang berada di seluaran hutan cemara. Kuda-kuda tersebut nampak asyik menikmati rumput hutan seakan tidak mempedulikan kehadiran kami.

Teruntuk ukuran Fatumnasi, sudah barang pasti keluarga Mateos Anin adalah keluarga berada. Keluarga yang merupakan famili kepala suku di Fatumnasi ini tidak hanya mempunyai sapi, namun juga beberapa ekor kerbau, kuda, ayam, burung dara, seekor monyet, dan seekor kuskus. Sampai hari ini saya masih belum paham untuk apa kuskus itu dipelihara dan tidak cukup niat untuk bertanya.

“Sapi-sapi di sini biasanya dilepas begitu saja di padang rumput, beberapa saya lepas di atas sana dekat dengan Puncak Mutis,” ungkap Pak Mateos Anin sekembalinya kami dari padang rumput sembari menghidangkan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap.

Sapi-sapi di Fatumnasi dibesarkan untuk kemudian dijual dagingnya. Sementara kuda-kuda dijual ke kota untuk dijadikan alat transportasi, mulai dari ditunggangi hingga menarik kereta. Untuk si monyet dan si kuskus, entahlah, mereka senang-senang saja berada di pekarangan belakang rumah Pak Anin. Entah untuk apa.