Selamat Datang di Batam

Dua ratus tahun pasca Isa Almasih, Pulau Batam sudah mulai dihuni oleh etnis Melayu yang menyebut diri mereka Suku Selat. Berabad-abad lamanya Pulau Batam menjadi tanah tinggalan Suku Selat yang terombang-ambing di bawah komando Riau Johor. Pada medio 1960-an, Pulau yang pernah menjadi basis perjuangan Laksamana Hang Nadim ini menjadi hub untuk transportasi pengangkutan minyak bumi di Pulau Sambu.

Barulah sekitar satu dekade kemudian, Pulau Batam dilirik oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai lengan industri dari kawasan segitiga emas Singapura-Batam-Johor yang menguasai perdagangan Selat Malaka. Pada saat itulah pemerintah menunjuk Badan Otorita Batam untuk mengendalikan roda pemerintahan di tanah ini.

Pada awalnya, Batam merupakan bagian dari Provinsi Riau. Selama beberapa tahun Pulau Batam harus berkiblat kepada tetangganya, Kota Tanjungpinang, yang menjadi ibukota pertama bagi Provinsi Riau. Belakangan ibukota dipindahkan ke Kota Pekanbaru.

Satu dekade silam, Provinsi Kepulauan Riau dimekarkan dari induknya. Kota Tanjungpinang sekali lagi didapuk menjadi ibukota teruntuk provinsi juvenil ini. Pada saat itu, meskipun Kota Batam sudah tumbuh menjadi kota yang jauh lebih besar dan ramai dengan penduduk satu setengah juta jiwa, tongkat komando masih berada di kota yang dianggap mempunyai nilai historis lebih tebal, Kota Tanjungpinang.

Saya sering berkunjung ke Kota Batam. Bukan melulu menjadikan Kota Batam sebagai destinasi, namun kota ini acapkali menjadi hub untuk saya ketika memburu akses murah ke Singapura. Belum lama ini, pada Lebaran silam, saya pulang dari Oslo, Norwegia menuju ke Singapura. Namun karena harga tiket pesawat tujuan Jakarta yang meroket, maka mau tidak mau saya terpaksa pulang dari Jakarta melalui Kota Batam!

Sesungguhnya Batam pernah digadang-gadang punya potensi luar biasa. Pulau ini dianggap sebagai ancang-ancang Indonesia untuk menampung luapan Singapura yang semakin sesak. Namun entah mengapa hal tersebut tidak pernah terjadi. Batam memang tumbuh menjadi kota yang ramai namun masih jauh sekali apabila dibandingkan dengan potensinya.