Bandit-Bandit Tanah Besemah

“Barangsiapa mendaki Bukit Barisan dari Bengkulu, kemudian menjejakkan kakinya di tanah Kesultanan Palembang yang begitu luas dan melangkahkan kakinya dari utara Ampat Lawang menuju dataran Lintang nan indah, sehingga tibalah ia di kaki Gunung Dempo, maka berarti ia sudah tiba di negeri orang Pasemah,” demikian tulis JSG Grambreg dua abad silam dalam ekspedisinya mewakili pemerintah Hindia Belanda menjelajah barat Sumatera yang terisolasi.

Sementara orang Inggris menyebutnya sebagai Passumah, yang dikenal sebagai negara bangsa bandit. Di sebalik bukit Bukit Barisan inilah, Tanah Pasemah atau Besemah, pernah memusingkan pemerintah kolonial Britania Raya yang kala itu menguasai Bengkulu. Catatan John Bastin di dalam The British History of West Sumatra mengisahkan bahwa bandit-bandit dari kawasan ini acapkali mengusik distrik Manna di Bengkulu yang kala itu berada di bawah administrasi Inggris.

Kesan tanah bandit ini rupanya bertahan hingga era republik. Pada medio Orde Lama, kawasan Lahat dan sekitarnya relatif kurang tersentuh oleh pembangunan. Sementar pada era Orde Baru, daerah lintas tepi Bukit Barisan ini menjadi zona merah bagi kendaraan-kendaraan berat yang melintas lantaran banyaknya ancaman perampokan dan bajing loncat, mulai dari kawasan Liwa di Lampung, Manna di Bengkulu, hingga tentu saja kawasan Empat Lawang dan Pagaralam di Sumatera Selatan.

Namun semenjak runtuhnya era Orde Baru, akses ke kawasan ini mulai terbuka. Kehidupan masyarakat yang membaik dan seiring dengan semakin ramainya daerah tersebut membuat ekonomi bergerak maju dan tingkat kriminalitas merosot cepat.

Belanda menyebut Bangsa Besemah sebagai suku yang suka berperang. Bukan hanya Belanda dan Inggris yang dibuat lintang pukang oleh sepak terjang bandit-bandit kawasan ini, Portugis pun sebenarnya pernah mempunyai catatan kaki tentang kawasan ini meskipun sangat sedikit untuk digunakan sebagai penarik kesimpulan. Padahal apabila menilik koleksi peninggalan Megalitikum yang terserak di dataran tinggi ini, dapat disimpulkan bahwa Tanah Besemah punya nilai budaya yang luar biasa.

“Apabila ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi tersebut,” lanjut Grambreg di dalam notulennya, “Maka tibalah ia di sisi timur yang luas dan hamparan perbukitan di tenggara. Dataran tinggi itu akan berakhir pada pegunungan tempat terbentuknya perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah milik Hindia Belanda.”

Dari catatan tersebut tersurat bahwa dua abad silam Tanah Besemah belum ditakulkkan oleh Hindia Belanda. Kawasan ini bahkan boleh dibilang merdeka lebih lama daripada daerah-daerah di sekitarnya lantaran sangat susah untuk ditaklukkan, hingga akhirnya Belanda berhasil menguasai tanah ini dan membangun industri teh yang sangat sukses. Sejak saat itu, gejolak Tanah Besemah pun perlahan-lahan memudar.