Jejak Portugis di Ternate

Dari Malaka ke Maluku. Seusai menguasai perdagangan di Malaka pada awal abad ke-16, armada Portugis mengalihkan perhatian mereka ke Maluku demi satu tujuan, rempah-rempah. Perjalanan yang membawa misi Gold Gospel Glory ini mau tidak mau harus diakui tidak proporsional dengan bobot berlebih pada bagian Gold.

Pada masa Penjelajahan Samudera, baik Portugis dan Spanyol sejatinya sudah membagi daerah eksplorasi. Dari Eropa, Portugis berlayar ke timur sementara Spanyol berlayar ke barat. Hal ini ditujukan untuk menghindari konflik dari dua negara besar tersebut andai-andai mereka singgah di daerah jajahan baru yang sama. Pada tahun 1511, armada Portugis berlayar menembus arkipelago nusantara dari barat dan mendarat di Maluku. Satu tahun kemudian, armada Spanyol dari timur dan berakhir pula di Maluku.

Di sinilah mereka bertemu, Ternate dan Tidore, karena bumi itu bulat.

Barangkali Portugis dan Spanyol terkejut dengan pertemuan ini, barangkali juga tidak. Kedua kerajaan danawa tersebut sama-sama merasa berhak memiliki kawasan penghasil rempah-rempah di Maluku. Dan keduanya sama-sama tidak melanggar aturan bahwa masing-masing telah berlayar mengikuti rute yang dijatahkan, Portugis ke timur dan Spanyol ke barat.

Hari ini saya berada di Benteng Tolukko, yang dahulu bernama Benteng Santo Lucas. Benteng inilah salah satu sisa pertempuran berlarut-larut antara Ternate yang dibantu Portugis melawan Tidore yang dibantu Spanyol. Ternate dan Tidore adalah dua kesultanan yang meraup keuntungan luar biasa besar dari perdagangan rempah-rempah. Sejatinya kedua kesultanan mampu bertransformasi menjadi dua raksasa yang makmur andaikan tidak menghabiskan harta mereka untuk membeli senjata dan saling berperang satu sama lain.

Pada puncak kejayaan kerajaan-kerajaan itu, nusantara bagian timur didominasi oleh tiga kerajaan, Kesultanan Gowa di sebagian besar Sulawesi, Kesultanan Ternate di Sulawesi bagian timur dan Maluku bagian barat, dan Kesultanan Tidore di Maluku bagian timur hingga kepala burung Papua.

Keunggulan Ternate atas rivalnya meredam gejolak selama beberapa saat. Pada masa itu, sengketa kemudian justru beralih antara Ternate dan Portugis. Pembunuhan licik yang dilakukan Lopez de Mesquita terhadap Sultan Khairun memantik kemarahan besar rakyat pulau ini. Benteng Benteng Santo Lucas direbut dan diduduki oleh rakyat Ternate hingga akhirnya Portugis pun terusir dari arkipelago ini.

Kini Benteng Santo Lucas menjelma menjadi Benteng Tolukko yang berdiri tidak jauh dari riuhnya arus perdagangan Kota Ternate. Seakan memutar kembali sejarah lima abad silam, Kota Ternate kembali menjadi kota perdagangan yang hidup. Hanya saja untuk kali ini, bukan lagi soal rempah-rempah.