Desa Fatumnasi nan Permai

Fatumnasi terselip di celah pegunungan. Tidak jauh dari desa ini terlihat puncak Gunung Mutis, atap Pulau Timor, mengambang di awang-awang seakan meneduhi seantero pulau. Desa kecil ini begitu tenang, jauh dari keramaian, sedikit banyak lantaran sulitnya akses transportasi untuk masuk ke sini.

Saya berjalan seorang diri pada sore itu mendaki salah satu dari sekian lusin bukit kecil berselimut padang rumput hijau yang tersebar di setiap sudut desa. Dari atas salah satu bukitnya saya menatap ke luasan Fatumnasi, rumah-rumah beratap genting terlihat berserakan di kaki tebing karst. Rumah-rumah modern ini semakin banyak menghiasi Fatumnasi seiring dengan meningkatnya taraf ekonomi desa ini, dibangun berdampingan dengan lopo-lopo adat yang sudah berabad-abad di tempat ini.

Secara harafiah, Fatumnasi berarti batu tua. Di tanah tinggi inilah tinggal Suku Mollo, sebuah etnis pedalaman Timor yang acapkali disebut oleh suku-suku di sekitarnya sebagai “orang gunung”. Salah satu yang membedakan Suku Mollo dengan suku-suku Timor lain yang hidup di dataran rendah adalah bentuk lopo yang gondrong, atap alang-alangnya memanjang hingga ke tanah. Hal ini dikarenakan lopo di tanah ini berfungsi sebagai rumah yang membendung dinginnya udara gunung.

Jari-jari ini sudah terasa kelu lantaran diterpa dinginnya udara Fatumnasi. Namun saya mencoba untuk tidak peduli karena pemandangan yang terpapar di hadapan saya begitu memukau.

Tidak banyak yang mengingat bahwa Fatumnasi pernah nyaris hancur. Kala itu konsesi pertambangan marmer nyaris diberikan kepada beberapa perusahaan untuk mengeruk kekayaan batu-batu Fatumnasi. Namun berkat kepemimpinan Aleta Baun, seorang mama yang merupakan aktivis sosial dan lingkungan, warga Fatumnasi berhasil merebut kembali tanah mereka dari jamahan traktor-traktor pertambangan. Atas jasa-jasanya tersebut, Aleta Baun diganjar penghargaan Goldman Environmental Prize 2013.

Salam dan senyum bertebaran di jalan setiap kali saya berpapasan dengan penduduk. Masyarakat Timor yang dikenal ramah membuat saya merasa begitu diterima di tanah ini. Begitu pula dengan sambutan penuh kehangatan yang diberikan oleh Pak Mateos Anin di rumahnya memang menjadikan saya sudah merasa betah di sini.

Fatumnasi bukan hanya sebuah keindahan di atap Timor. Fatumnasi menyimpan sejuta cerita, mulai dari kesakralan Gunung Mutis, keramahan warganya, kekayaan alamnya, hingga susahnya untuk mengakses tanah ini. Secara pribadi, saya jauh lebih bahagia keindahan nan memukau ini tetap tidak tersentuh oleh tangan-tangan yang ingin merebutnya. Semoga saja.