Rumah Tongkonan ala Toraja

Tongkonan dicerabut dari kata tongkon, yang artinya dudukan. Tongkonan pada masa lampau merupakan tempat berkumpulnya para bangsawan Tana Toraja untuk berdiskusi, baik perkara pemerintahan hingga soal pengadilan adat. Dari dalam tongkonan-tongkonan inilah kebudayaan Toraja tumbuh dan bergerak maju.

Selain menjadi lahan diskusi, tongkonan merupakan sentra keluarga, tempat keluarga-keluarga berkumpul untuk saling bercengkerama. Tongkonan merupakan tempat di mana para orang tua mengajarkan etika adat kepada anak-anaknya dan tempat di mana anak-anak mencari nasehat dari orang tuanya.

Masyarakat Toraja sangat menghargai tongkonan, utamanya yang menjadi milik bagi keluarga mereka. Di dalam budaya Tana Toraja, sebuah tongkonan merupakan simbolisasi terhadap ibu. Sementara lumbung padi merupakan simbolisasi terhadap bapak. Perawatan dan perhatian yang diberikan masyarakat Tana Toraja terhadap tongkonan membuat banyak bangunan yang mampu bertahan lama menembus usia-usia yang tidak lazim untuk sebuah bangunan kayu. Sebut saja tongkonan-tongkonan di Kete Kesu yang berusia hampir setengah milenium.

“Tongkonan di Tana Toraja berbeda dengan yang di Mamasa,” ucap saya kepada Rudy mencoba membandingkan rumah adat dari dua daerah yang bersebelahan itu, “Di Mamasa sana atapnya lebih besar rendah, sementara di Toraja terlihat pipih namun tinggi menjulang.”