Yang Tersisa di Pulau Galang

Beberapa set televisi tua, panci penyok, dan sisir plastik yang nampak begitu rapuh teronggok di sudut ruangan itu. Barang-barang itu dikumpulkan sebagai totem peninggalan terakhir para pengungsi. Ada beberapa yang kembali ke negaranya dan beberapa yang meninggal dunia meninggalkan benda-benda retro ini di Pulau Galang.

Saya berjalan menyusuri ruangan yang tidak dijaga itu. Puluhan bahkan ratusan artefak peninggalan para pengungsi dibiarkan tergeletak begitu saja, termasuk sebuah sepeda motor usang yang dulu digunakan para petugas PBB untuk berkeliling pulau. Tidak ada yang menarik di sini selain fakta bahwa barang-barang ini dulu pernah menjadi bagian dari keseharian para pengungsi.

Mata saya tertuju kepada deretan pas foto yang ditempel begitu saja di papan kayu. Di sana terdapat banyak sekali foto dengan nama-nama di bawahnya, merekalah para relawan dan para pengungsi yang tercatat pernah menghuni pulau ini. Semua foto itu punya nama, tanggal lahir, dan tanggal kedatangan. Beberapa punya tanggal mati.

Enam belas tahun lamanya pulau ini secara resmi dijadikan kamp pengungsian, namun pada prakteknya jauh lebih lama lantaran pengungsi terakhir baru meninggalkan Pulau Galang pada pertengahan medio 1990-an. Sudah barang tentu bukan waktu yang singkat. Banyak anak kecil yang datang ke pulau ini dan meninggalkannya sebagai orang dewasa. Banyak pula orang yang tidak berkesempatan meninggalkan pulau ini lantaran mengakhiri hidupnya di sini.

Mereka yang tiba di pulau ini adalah mereka yang beruntung. Meskipun kehidupan Pulau Galang sendiri begitu keras dan tidak banyak yang diharapkan. Sebagian besar manusia perahu Vietnam tewas di perjalanan karena kapal mereka karam diterjang ganasnya gelombang Laut Cina Selatan. Sisanya adalah mereka yang hidup di kamp-kamp pengungsian. Tanpa harta, hanya membawa nyawa.

Matahari sudah terbenam ketika saya menyudahi singgahan ke pondok ini. Artinya saya harus segera bergegas untuk kembali ke Pulau Batam, dua jam perjalanan dari sini. Di tengah redupnya langit sore, saya menggeber sepeda motor keluar dari Kampung Vietnam. Biarlah ini menjadi catatan pamungkas dari perjalanan menyusur histori ini.