Jalan Mulus di Jantung Siak

Dengan volume kendaraan yang hidup segan mati tak mau, rasanya aneh melihat jalan-jalan raya di Siak Sri Indrapura membentang mulus tanpa pelintas. Butuh waktu beberapa saat bagi saya untuk membiasakan diri dengan nuansa janggal di kabupaten kaya minyak ini.

Otonomi daerah bukanlah panasea akan ketimpangan pembangunan. Semenjak otonomi daerah diterapkan di Indonesia untuk menekan kesenjangan pembangunan antara Jawa dan pulau-pulau lainnya, kesenjangan kini tercipta antar provinsi. Sebut saja Siak yang mampu membangun jalan raya megah dan mulus meskipun tanpa pelintas seperti ini, sementara di Kalimantan sana banyak jalan antar kabupaten yang berkubang lumpur.

“Wah, kamu dulu kuliah di STT Telkom ya?” sambar si ibu penjual es dengan berbinar-binar, “Saya minta nomor telepon donk, biar saya bisa nanya-nanya karena anak saya juga mau masuk sana.”

Entahlah. Saya bahkan sudah tidak tahu menahu soal pendaftaran ataupun ujian masuk kampus karena memang sudah lama saya meninggalkan Dayeuhkolot. Tetapi sebatas ramah tamah maka saya ladeni saja maunya ibu itu sembari melepas lelah duduk di warung kecil itu, menyantap es buah yang terlampau manis.

Saya masih percaya kekuatan sol sepatu ketika berjalan sendiri menyusuri trotoar Siak yang sepi pada hari itu. Meskipun panas menjerang dan entah sudah berapa kilometer saya jangkahi dari Istana Siak Sri Indrapura hingga Jembatan Sultanah Latifah, penyelusuran ini masih jauh dari usai.

Jembatan Siak membentang tepat di hadap wajah saya yang hitam legam dibakar matahari. Aspal mulus yang menjadi landasannya terpapar memanjang sejauh lebih dari satu kilometer, melayang tinggi di atas Sungai Siak. Jembatan megah ini terlihat sepi, bahkan sungai di bawahnya terkesan lebih ramai dengan kendaraan yang lalu lalang.

“Saya masih punya waktu tiga jam sebelum kapal menjemput saya ke Pekanbaru,” celetuk saya kepada si ibu tadi sesaat sebelum berpamitan, “Biarlah saya memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit ini untuk menikmati parade pembangunan di Siak.”